Kamis, 25 Januari 2018

Jarak Membawa Maut

Pernah lihat….
Film The Beckoning Silence ?, kisah nyata ekspedisi di North-Face nya Eiger. Film yang berakhir dengan sangat tragis, karena pendaki terakhir menemui ajalnya. Menggantung ditengah overhang. Naik tak bisa, turun juga tak mampu, gara gara adanya sambungan tali, dan karabiner macet tepat disitu. Para rescuer salah menduga jarak, dari teras terakhir ke lokasi rescue. Akibatnya fatal, jenazah menggantung selama 3 hari, sebelum akhirnya bisa di evakuasi.

Jarak, bisa menjadi musuh menakutkan saat pengembaraan, yaitu ketika kita mengabaikannya. Sikap skeptis merupakan cermin dari fatalistis. Sikap ceroboh bisa membawa heboh. Tergesa bisa membawa nestapa. So…hati-hati dengan jarak, baik jarak ruang maupun waktu.

Pada saat melakukan penyebrangan, baik basah maupun kering, aspek jarak harus diketahui dengan tepat. Hal ini akan berpengaruh pada kesiapan alat yang kita bawa. Tali satu roll sepanjang 50 meter, tak akan mampu melintasi jurang atau sungai selebar 60 meter. Bahkan yang pas 50 meter sekalipun, karena sebagian tali harus diambil untuk membuat anchor di kedua sisi.

Ada beberapa cara yang praktis dan mudah untuk melakukan pengukuran. Semakin sederhana, maka akan semakin berkurang akurasinya. Namun untuk hal hal yang sifatnya cepat dan praktis, bisa juga digunakan.

Ambil contoh ….
Kita ingin menyeberangi sebuah sungai. Sehubungan tali yang kita bawa hanya satu roll 50 meter, maka kita harus tahu, berapa lebar sungai didepan kita.

Cara 1. (lihat gambar 1)


Pertama, tentukan posisi kita berdiri, katakanlah titik A. Tatap objek tadi ( titik B ), kemudian perlahan turunkan topi rimba yang kita pakai, sampai ujung bawah lidah topi, tepat menyentuh objek. Pejamkan mata, kemudian perlahan putar badan 90 derajat, dengan posisi kepala tetap datar. Tidak jadi menengadah atau menunduk. Setelah putaran badan dirasa cukup, lalu buka mata. Tatap objek yang ada tepat diujung bawah lidah topi. Kemudian tandai objek tersebut (titik C)


Kita berdiri ditepian selatan sungai, dan ingin mengukur jarak dari tempat kita berdiri, pada sebuah pohon yang akan dijadikan anchor di seberang sana alias di utara. Secara prinsip, kita harus memindahkan objek diseberang sana, pada tepian yang kita duduki, agar mudah mengukurnya.


Pada saat itu, kita telah berhasil memindahkan objek diseberang (B), menjadi objek lain, namun berada ditepian sungai yang sama dengan kita ( C). Jarak A-B sama dengan jarak A-C. Dengan cara mengukur berapa jarak A-C, maka kita mengetahui berapa lebar sungai.


Cara 2 (lihat gambar 2)

Pertama tentukan titik dimana kita berdiri (A), tentukan objek diseberang (B) . Setelah itu kita berjalan kearah tegak lurus garis A-B. Setelah jarak tertentu, contoh 10 meter, beri tanda patok dititik C. Kita bidik titik B, melalui titik C, dan berjalan mundur kearah titik D. Pada momen itu, maka B – C – D merupakan sebuah garis lurus.

Dari titik D, berjalan maju kearah sungai, usahakan sejajar dengan garis A – B. Dan berhenti ketika memotong perpanjangan garis A - C. Tepat pada potongan itu beri patok (titik E).
Supaya garisnya lurus, gunakan tali yang direntang. Dan pada saat itu kita telah berhasil membuat 2 buah segitiga imajiner yang sebangun, Yaitu segitiga ABC, yang tepat sebangun dengan segitiga EDC, sehingga berlaku hukum perbandingan linier.

Dua buah ukuran sudah dapat kita ukur, Yaitu jarak AC yaitu 10 meter, dan CE yang dapat kita ukur langsung dilapangan.
Ambil contoh, AC = 10 meter, dan CE = 2 meter. Alias konstanta perbandingannya 10/2 = 5.
Ukur jarak DE, lalu kalikan dengan konstanta diatas , yaitu 5, maka itulah jarak AB alias lebar sungai. Umpama setelah diukur jarak DE = 6 meter. Maka jarak AB = DE x konstanta = 6 X 5 meter = 30 meter

AB = DE x ( AC/CE) = 6 x ( 10/2) = 30 meter.

Yang menjadi kendala, terkadang kita ke hutan gak bawa meteran....mana bisa presisi ? hehehehe..... :))

Emang, kita enggak usah repot repot bawa meteran kok. Karena alat meteran itu sudah ada ditubuh kita sendiri !!!

Misal : Tinggi badan saya 170 cm., langkah normal saya 80 cm,  panjang lengan saya 63 cm, jengkalan jari saya 23 cm, panjang telapak kaki 26 cm, telunjuk saya 8 cm …. Tambahkan lagi, panjang ikat pinggang, syal, dll…cukup mudah khan????
Semua ada dalam diri kita. Hanya tinggal bagaimana mengkombinasikannya.

Kita mengukur jarak diluar sana, dengan menggunakan ukuran jarak yang ada dalam diri kita sendiri !!!. Tentu hasilnya tidak akan tepat benar, karena ada faktor deviasi, yaitu setengah dari alat ukur yang kita gunakan. Tapi tetap lumayan daripada buta jarak sama sekali, yang bisa berakibat fatal.

So…..
Berlatih, berlatih, berlatih jangan berhenti
Karena kecepatan bukan datang dari ketergesaan
Namun hasil reflek, dari latihan yang terus …
di ulang-ulang !!!




MTP 0197071 CRN

(dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar