Pernah
lihat….
Film
The Beckoning Silence ?, kisah nyata ekspedisi di North-Face nya Eiger. Film
yang berakhir dengan sangat tragis, karena pendaki terakhir menemui ajalnya.
Menggantung ditengah overhang. Naik tak bisa, turun juga tak mampu, gara gara
adanya sambungan tali, dan karabiner macet tepat disitu. Para rescuer salah
menduga jarak, dari teras terakhir ke lokasi rescue. Akibatnya fatal, jenazah
menggantung selama 3 hari, sebelum akhirnya bisa di evakuasi.
Jarak,
bisa menjadi musuh menakutkan saat pengembaraan, yaitu ketika kita
mengabaikannya. Sikap skeptis merupakan cermin dari fatalistis. Sikap ceroboh
bisa membawa heboh. Tergesa bisa membawa nestapa. So…hati-hati dengan jarak,
baik jarak ruang maupun waktu.
Pada
saat melakukan penyebrangan, baik basah maupun kering, aspek jarak harus
diketahui dengan tepat. Hal ini akan berpengaruh pada kesiapan alat yang kita
bawa. Tali satu roll sepanjang 50 meter, tak akan mampu melintasi jurang atau
sungai selebar 60 meter. Bahkan yang pas 50 meter sekalipun, karena sebagian
tali harus diambil untuk membuat anchor di kedua sisi.
Ada
beberapa cara yang praktis dan mudah untuk melakukan pengukuran. Semakin
sederhana, maka akan semakin berkurang akurasinya. Namun untuk hal hal yang
sifatnya cepat dan praktis, bisa juga digunakan.
Ambil
contoh ….
Kita
ingin menyeberangi sebuah sungai. Sehubungan tali yang kita bawa hanya satu
roll 50 meter, maka kita harus tahu, berapa lebar sungai didepan kita.
Cara
1. (lihat gambar 1)
Pertama,
tentukan posisi kita berdiri, katakanlah titik A. Tatap objek tadi ( titik B ),
kemudian perlahan turunkan topi rimba yang kita pakai, sampai ujung bawah lidah
topi, tepat menyentuh objek. Pejamkan mata, kemudian perlahan putar badan 90
derajat, dengan posisi kepala tetap datar. Tidak jadi menengadah atau menunduk.
Setelah putaran badan dirasa cukup, lalu buka mata. Tatap objek yang ada tepat
diujung bawah lidah topi. Kemudian tandai objek tersebut (titik C)
Kita
berdiri ditepian selatan sungai, dan ingin mengukur jarak dari tempat kita
berdiri, pada sebuah pohon yang akan dijadikan anchor di seberang sana alias di
utara. Secara prinsip, kita harus memindahkan objek diseberang sana, pada
tepian yang kita duduki, agar mudah mengukurnya.
Pada
saat itu, kita telah berhasil memindahkan objek diseberang (B), menjadi objek
lain, namun berada ditepian sungai yang sama dengan kita ( C). Jarak A-B sama
dengan jarak A-C. Dengan cara mengukur berapa jarak A-C, maka kita mengetahui
berapa lebar sungai.
Cara
2 (lihat gambar 2)
Pertama
tentukan titik dimana kita berdiri (A), tentukan objek diseberang (B) . Setelah
itu kita berjalan kearah tegak lurus garis A-B. Setelah jarak tertentu, contoh
10 meter, beri tanda patok dititik C. Kita bidik titik B, melalui titik C, dan
berjalan mundur kearah titik D. Pada momen itu, maka B – C – D merupakan sebuah
garis lurus.
Dari
titik D, berjalan maju kearah sungai, usahakan sejajar dengan garis A – B. Dan
berhenti ketika memotong perpanjangan garis A - C. Tepat pada potongan itu beri
patok (titik E).
Supaya
garisnya lurus, gunakan tali yang direntang. Dan pada saat itu kita telah
berhasil membuat 2 buah segitiga imajiner yang sebangun, Yaitu segitiga ABC,
yang tepat sebangun dengan segitiga EDC, sehingga berlaku hukum perbandingan
linier.
Dua
buah ukuran sudah dapat kita ukur, Yaitu jarak AC yaitu 10 meter, dan CE yang
dapat kita ukur langsung dilapangan.
Ambil
contoh, AC = 10 meter, dan CE = 2 meter. Alias konstanta perbandingannya 10/2 =
5.
Ukur
jarak DE, lalu kalikan dengan konstanta diatas , yaitu 5, maka itulah jarak AB
alias lebar sungai. Umpama setelah diukur jarak DE = 6 meter. Maka jarak AB =
DE x konstanta = 6 X 5 meter = 30 meter
AB =
DE x ( AC/CE) = 6 x ( 10/2) = 30 meter.
Yang
menjadi kendala, terkadang kita ke hutan gak bawa meteran....mana bisa presisi
? hehehehe..... :))
Emang,
kita enggak usah repot repot bawa meteran kok. Karena alat meteran itu sudah
ada ditubuh kita sendiri !!!
Misal
: Tinggi badan saya 170 cm., langkah normal saya 80 cm, panjang lengan saya 63 cm, jengkalan jari
saya 23 cm, panjang telapak kaki 26 cm, telunjuk saya 8 cm …. Tambahkan lagi,
panjang ikat pinggang, syal, dll…cukup mudah khan????
Semua
ada dalam diri kita. Hanya tinggal bagaimana mengkombinasikannya.
Kita
mengukur jarak diluar sana, dengan menggunakan ukuran jarak yang ada dalam diri
kita sendiri !!!. Tentu hasilnya tidak akan tepat benar, karena ada faktor
deviasi, yaitu setengah dari alat ukur yang kita gunakan. Tapi tetap lumayan
daripada buta jarak sama sekali, yang bisa berakibat fatal.
So…..
Berlatih,
berlatih, berlatih jangan berhenti
Karena
kecepatan bukan datang dari ketergesaan
Namun
hasil reflek, dari latihan yang terus …
di
ulang-ulang !!!
MTP 0197071 CRN
(dari
berbagai sumber)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar