Mitos dibalik pendakian Gunung Kakupalatmada 2.050 Mdpl
Pulau Buru - Maluku
Pulau Buru, identik dengan pulau tempat ex. tahanan politik PKI yang dibuang/diasingkan oleh Pemerinahan Orde Baru ternyata menyimpan banyak cerita mengenai kondisi alam pegunungannya yang jarang terekspos.Pegunungan Kapalatmada terdiri dari beberapa puncak gunung diantaranya Kaku Palatmada 2050 Mdpl, Kaku Mahu 2150 Mdpl dan Kaku Ghegan 2719 Mdpl. Kata kaku sendiri berasal dari bahasa setempat yang artinya ”Puncak”.
Kurangnya informasi terkait pegungungan Kapalatmada sendiri sangat minim dikarenakan jarangnya pendaki yang menuju kesana dan masih tertutupnya masyarakat setempat dalam memberikan informasi seputaran gunung tersebut yang dianggap masih tabu untuk diberikan kepada orang luar. Selain itu untuk menuju ke sana dibutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai kaki gunung.
Pegunungan kakupalatmada terletak di wilayah barat pulau Buru masuk dalam wilayah kecamatan Air Buaya dan kecamatan Kapalatmada. Dikelilingi oleh beberapa desa/dusun dikaki gunung yaitu desa/dusun Nalbesi, Waihotong, Waikeka, Nanali, Biloro, Bara dan Balpetu.
Untuk menuju ke desa/dusun tersebut dari kota Ambon menggunakan kapal motor, kapal cepat atau ferry penyebrangan yang waktu ditempuhnya 8 – 10 jam menuju kecamatan Buru Utara Timur tepatnya di kota Namlea dan dilanjutkan dengan perjalanan darat ± 4 jam atau dapat juga menggunakan kapal pelayaran rakyat dengan waktu perjalanan 6 - 8 jam.
Pendakian ke puncak-puncak pegunungan kakupalatmada merupakan program MATEPALA Universitas Pattimura dan sampai saat ini setelah melakukan beberapa kali ekspedisi seluruh puncak diatas telah berhasil di capai. Pada kesempatan ini kami tidak membicarakan mengenai perjalanan menuju puncak, akan tetapi yang akan dibicarakan menyangkut sebuah batu yang berada di puncak gunung Kaku Chegan yang oleh masyarakat setempat dinamakan batu Garuda.
Sebagian masyarakat daerah pegunungan tersebut menganggapnya sebagai batu keramat yang tidak bisa seorang pun mampu mencapainya karna dan dari selentingan cerita/rumor, konon banyak terdapat mistik disana.Berdasarkan cerita masyarakat yang beredar batu Garuda merupakan tebing/gunung batu yang terbentuk akibat tertabrak burung garuda raksasa, ada juga yang mengatakan bentuknya berupa batu besar mirip burung Garuda. Ada juga cerita dari beberapa masyrakat bahwa Batu Garuda dulunya adalah gunung Garuda yang letaknya di atas Negeri Tifu di atasnya terdapat dua liang yang besar tempat bersarang burung Garuda raksasa yang konon jika sayapnya dikembangkan maka hampir semua negeri Tifu yang terletak di wilayah pulau buru bagian selatan tertutup bayangannya.
Secara geografis negeri Tifu sendiri bukan terletak di kec. Kepala Madan. Sampai sekarang cerita tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.Berawal dari program kerja tertunda Matepala Unpatti periode 1988–2000 yang sempat tertunda karna adanya konflik sosial di Maluku. Akhirnya pada bulan Mei 2005 dibentuk tim Ekspedisi Eko Wisata Pulau Buru yang bertujuan mendata potensi wisata alam Pulau Buru, pendakian beberapa puncak tertinggi serta pembuktian cerita rakyat yang begitu melegenda di pesisir Buru Selatan tepatnya di kec. Kepala Madan tentang Batu Garuda.
Perjalanan dimulai dari titik 0 Mdpl desa Waikeka setelah seharian mendaki tempat istirahat (flying camp) pada ketinggian 1130 mdpl. Perjalanan berikutnya akan ditemui jalur yang dinding tebing longsor yang besar ”The Big Wall” pada ketinggian 1431 mdpl. Tidak mudah melewati jalur ini karna harus melalui jalur longsoran gunung batu dan tebing, setelah seharian ngecamp dapat dilakukan pada ketinggian 1417 mdpl dekat sumber air berupa kubangan dgn jarak 50 m dari camp 1 (flying camp).
Untuk mencapai batu Garuda dapat dilalui 2 jalur yaitu menyusuri punggungan dan jalur pemanjatan akan tetapi jalur pemanjatan tidak disarankan karna jenis batuannya adalah batuan karst yang masih sangat rapuh sehingga mudah lepas.Setelah menyusuri punggungan tibalah di batu Garuda, Batu Garuda ini hanya merupakan batu besar yang berdiri dipunggungan gunung batu yang berbentuk seperti Burung Garuda besar sebatas badan.
Selanjutnya lewat Batu Garuda kami pun mendaki lagi menuju puncak Kaku Palatmada, kurang lebih 3 jam membuat jalur baru akhirnya tim dapat puncak Kaku Palatmada.kondisi puncak sendiri batuan dan banyak pohon yang meranggas bekas terbakar. Dari puncak terlihat dengan jelas Desa Waihotong dan Waikeka serta kepulauan Sula Maluku Utara.
Wajar memang kalau masyarakat mengangap keramat daerah ini mengingat begitu sulitnya mencapai tempat tersebut dan juga aneh kenapa ada Batu yang begitu mirip dengan Burung Garuda, namum didalam benak kami hal ini merupakan kejadian alam yang biasa serta terlepas dari itu semua adalah kekuasaan Sang Khalik yang menciptakan ini semua kita hanya bisa menikmati dan mensyukuri tanpa harus bertanya.Mitos hanya sebuah kata tak bermakna.........jika kita percaya dan yakin akan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Agung..... mungkin ini ini sepenggal kalimat yang bisa terucap tuk mengungkapkan perasaan kami semua.
Jadilah engkau lilin yang demi menerangi gelap rela membakar dirinya sendiri. Mungkin falsafah ini yang harus kita pakai dalam bergelut di dunia Mapala. Pulau Buru dengan segala keindahan yang tersembunyi dan medan yang menantang merupakan tempat yang pas untuk berlatih dan mengasah skill bagi para pendaki, Batu Garuda di kawasan Kaku Palat Mada dengan cerita dan segala mitos yang melekat padanya merupakan tantangan tersendiri bagi para pendaki tuk menaklukkannya.Dengan semanagat ”lilin” kami mampu menjadi yang pertama menapakan kaki dan kibarkan panji biru di puncak mitos tersebut.
Tiada gunung yang tak bisa kami daki, tiada lembah yang tak bisa kami seberangi jadilah penakluk pertama jadilah penakluk mitos.......
Seperti diceritakan oleh
Ketua Tim Ekpsdisi K'Billy - MTP 0197070 CRN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar