Selasa,
28 September 2004 (Hari – 11)
Sejak
jam 05:00 LT menunggu hilangnya kabut tebal sambil mempersiapkan perlengkapan,
pada jam jam 08:30 LT setelah jarak pandang kami anggap sudah memungkikan kamipun
segera melanjutkan perjalanan menuju Waipuku dan akhirnya jam 09:50 LT kamipun
tiba di Waipuku (3025 Mdpl).
Waipuku
(3025 Mdpl) adalah teras dari Puncak Mutiara Nusa Ina (3027 Mdpl) dimana
terdapat air berbentuk danau dangkal yang lebih tepatnya kubangan mungkin yang
cukup luas, tempat binatang terutama rusa untuk sekedar singgah dan minum disitu,
hal ini dapat dilihat dari banyaknya kotoran rusa disekitar danau tersebut.
Dengan
adanya sumber air ini yang konon tidak kering di musim panas memungkinkan para
pendaki untuk menginap di teras puncak Mutiara Nusa Ina
Setelah
mendirikan camp dan makan siang dengan gerimis yang mulai berhenti sekalian
menuggu cuaca cerah, jam 13:10 kami seluruhnya menuju titik tertinggi di Maluku
yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia, Gunung Binaiya Puncak
Mutiara Nusa Ina (3027 Mdpl) dan berdoa mengucap syukur atas perjalanan yang
cukup berat dilalui dalam beberapa hari ini kemudian merayakan summit party
sampai dengan jam 14:00 LT seluruh anggota tim kembali ke camp untuk
beristirahat menuggu pemandangan puncak di sore hari. Tepat pukul 22:00 setelah
makan malam & briefing evaluasi perjalanan masih di camp Waipuku
masing-masing anggota tim beristirahat untuk memulihkan tenaga besok pagi.
Rabu,
29 September 2004 (Hari – 12)
Dimulai
bangun pagi jam 05:00 LT sambil bersiap sarapan dan menikmati sunrise dari
puncak setelah itu seluruh anggota melaksanakan packing perlengkapan
masing-masing untuk kembali ke Desa Kanikeh pada pukul 08:30 dengan cuaca
sangat cerah yang mendukung kamipun mulai berjalan meninggalkan Waipuku.
Perjalanan
balik dari puncak ini tidak sesulit seperti perjalan waktu pergi,
cuaca yang cukup baik dengan kecepatan angin tidak terlalu kecang, jalur yang
dilalui sudah cukup jelas karna sudah dibersikan pada saat perjalanan menuju
puncak dan yang lebih enak lagi karna banyak bonus turunan tentunya…..hehehehe
Tak
terasa 1 jam perjalanan tibalah kami di Waihuhu dsan cuaca pun mulai gerimis
tapi untunglah tidak berkabut sehingga masih memudahkan kami dalam
memeprtahankan kecepatan langkah menuruni jalur menuju wayansela dan tiba di
Wayasela jam 13:00 LT kamipun beristirahat & langsung makan siang dengan
nasi yang memang telah dimasak tadi pagi sebelum start dari Waupuku. Hal ini
dapat menghemat waktu karna kami tidak perlu berlama-lama lagi menunggu nasi
matang dulu baru makan.
Setelah
makan siang perjalanan ditunda lagi karna hujan mulai lebat diselingi dengan
petir sehingga sangatlah tidak aman melakukan perjalanan jika terjadi banyak
petir. Akhirnya jam 14:30 LT hujan mulai reda & petir pun sudah berhenti,
kamipun langsung melajutkan perjalanan mengejar waktu yang tebuang.
Cuaca
sudah agak cerah walaupun masih terdapat sedikit gerimis jam 15:30 LT tibalah
kami di sungai Waiule yang merupakan perbatasan atau pintu masuk ke Desa
Kanikeh dari sini perjalanan sekitar 1 jam ke Desa Kanikeh. Kamipun beritirahat
kemudian lanjut perjalanan tepat pada pukul 17:00 LT kamipun tiba di Desa
Kanikeh untuk beristirahat.
Kamis,
30 September 2004 (Hari – 13)
Masih
terekam euforia summit party kemarin hari ini kami terlambat bangun pagi jam
07:30 LT baru bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya dan setelah mengurus
segala administrasi terkait sumbangan Adat dan bayaran Porter 2 orang Kanikeh
jam 10:30 LT kamipun berpamitan untuk melajutkan perjalanan menuju ke arah
Utara pulau Seram tepatnya di desa Alkamat kecamatan Wahai Seram utara dengan
melewati rute camp 27 (camp 27 merupakan camp milik perusahaan kayu pemegang
HPH).
Sejak
keluar dari Desa Kanikeh medan yang kami lalui cukup beragam dan cukup berat
dimulai dari jembatan gantung di ujung desa Kanikeh, kami harus menyusuri sungai
yang agak dalam dengan debit yang cukup deras akibat hujan beberapa hari ini
kemudian berjalan menipir lembah, mendaki dan menurun, dengan cuaca yang mulai
panas jam 14:00 LT kami menyebrangi sungai Waisamata yang aliran arusnya sangat
deras dengan debit yang cukup tinggi akibat curah hujan yang cukup tinggi
sepanjang tahun sehingga dibutuhkan teknik penyebrangan sungai yang baik,
setelah menyeberangi sungai kamipun treeking kebukit dimana ditemukan kebun
milik masyarakat entah masyarakat Kanikeh atau Roho. Disinilah kami istirahat
sejenak dan makan siang.
Setelah
beristirahat 45 menit kemudian kamipun Lanjut langsung full treeking lagi ± 20
menit kemudian jalurnya landai melewati hutan yang agak rindang. Setelah
beberapa menit menikmati kerindangan jalur yang dilalui mulai memasuki masuk
jalur logging dengan medan bervariasi naik dan turun dibawah cahaya matahari
yang cukup terik dan kurangnya sumber air selama di perjalanan jalur logging
ini sehingga memaksa kami harus menghemat air yang kami diminum selama
perjalanan.
Hari
mulai gelap jam 17:45 LT kamipun memasuki camp 27 yang saat ini tidak lagi
berbentuk camp akan tetapi lebih berbentuk sebuah kampung. Kamipun sempat
bertanya-tanya apakah salah tempat atau salah jalan, karna jalur ex logging
yang kami lalui sebelumnya merupakan jalur yang pernah dilalui oleh
senior-senior kami sebelumnya dalam ekpedisi Polygon tahun 2000 bersama Tim
Kopassus. Pertanyaan kami terjawab setelah tiba di Camp 27 yang sudah dihuni
oleh masyarakat desa Roho dan menurut cerita Kepala Desa setempat sejak
kerusuhan tahun 1999 Desa Roho telah kosong, masyarakat Desa Roho berpindah
dari desa lama ke Camp ini dengan alasan keamanan dan jaraknya lebih dekat jika
mereka mendatangi desa-desa pesisir pantai utara pulau Seram.
Camp
27 sendiri merupakan eks camp pekerja perusahaan kayu PT. Wanapotensi Nusa yang
berhenti operasi sejak kerusuhan tahun 1999, pekerjanya yang merasa terancam
akhirnya meniggalkan lokasi camp dan kembali ke daerahnya masing-masing.
Menurut
cerita sebagian masyarakat setempat biasanya berpindahnya letak sebuah
desa/dusun di sebabkan oleh beberapa hal yaitu faktor Keamanan, faktor
lingkungan dimana sumber mata air atau air sungai yang mengering, bencana alam,
dan faktor kematian mendadak atau beruntun.
Yang
unik disini adalah faktor kematian mendadak dan beruntun ini, diyakini mereka
bahwa jika ada beberapa masyarakat dusun/desa yang meninggal secara bersamaan
atau beururutan dalam beberapa hari akibat wabah atau tanpa sebab maka
dusun/desa tersebut dianggap sebagai tanda-tanda atau peringatan dari leluhur
mereka dan mengharuskan mereka harus berpindah tempat atau lokasi baru.
Setelah
makan malam karna kecapean jam 20:00 LT kamipun beristirahat untuk memulihkan
tenaga untuk persiapan menghadapi perjalanan besok melewati beberapa sungai dan
anak sungai lagi dengan target Desa Alkamat melewati Dusun Huaolu/Naulu.
Jumat,
01 Oktober 2004 (Hari – 14)
Kami
berusaha bangun lebih awal, jam menujukkan pukul 06:00 LT kami sudah
bersiap-siap berangkat dan perjalanan kamipun terkendala dengan masih tingginya
air sungai dan derasnya debit sungai Waimu yang terletak tidak jauh dari Camp
27, akhirnya kamipun mengurungkan niat berangkat pagi-pagi dan menuggu debit
air sungai menurun. Sekitar 2 jam kami menuggu di dekat sungai akhirnya jam
09:00 LT kamipun mencoba mengukur ketinggian air sungai dan ternyata sudah bisa
kami lalui walaupun airnya masih setinggi dada sampai leher. Debit air yang
masih cukup deras membuat kami harus hati ekstra hati-hati dalam menyebrang,
beberapa kali kami harus menggunakan tali untuk membantu kami dalam menyebrang
agar tidak hanyut terbawa sungai.
Setelah
30an menit menyebrangi singai Waimu dan beberapa menit melintasi medan landai
kami kembali menyeberangi sungai Waina. Sungai ini tidak terlalu dalam hanya
sebatas betis sampai lutut dengan debit aliran yang sedang dan kurang lebih 30
menit menyebrang dan menyusur sungai kamipun melewati percabangan dan melewati
sungai Waitoko. Sungai Waitoko ini merupakan anak sungai percabangan dari
sungai-sungai besar lainnya sehingga debit airnya tidak deras dan ketinggian
airnya juga hanya sebatas betis.
Jam
11:00 LT barulah kami terbebas dari jalur masuk keuar sungai-sungai ini dan
mulai melakukan treeking sekitar 1 jam lebih akhirnya kamipun tiba di dusun
Hualo atau biasa disebut juga Dusun Naulu karna suku yang menghuni dusun ini
adalah suku Naulu yang merupakan salah satu suku penduduk asli pulau Seram.
Ada
yang menarik dari dusun Hualo dimana rumah yang dibangun merupakan rumah yang
cukup besar (istilahnya rumah panjang) dan dalam 1 rumah panjang ini
dihuni oleh beberapa Kepala keluarga dengan jumlah orang 10 – 20 orang disetiap
rumah sehingga 1 dusun hanya terlihat beberapa rumah saja.
Setelah
makan siang dan beristirahat 13:30 LT kamipun berpamitan dengan bapak Raja dan
masyarakat dusun melanjutkan perjalanan menuju desa Alkamat. setelah beberapa
saat meninggalkan dusun Hualolu kami kembali dihadapkan dengan jalur logging.
Sekitar 3 jam perjalanan kami harus melalui tanjakan dan turunan jalur logging
dengan lebar jalur sekitar 10 – 15 meter. Dengan persediaan air yang minim dan
tidak adanya aliran sungai serta cuaca yang cukup panas membuat perjalanan <
20 Km menuju desa Alkamat serasa sangat panjang dan membosankan.
Hari
sudah mulai senja, sekitar jam 16:00 LT kamipun tiba di percabangan jalan
logging dengan jalur jalan trans Pulau seram yang menghubungkan antara Masohi
dengan daerah-daerah di pulau Seram Utara. Kamipun tetap memilih melewati jalur
logging daripada menuggu mobil trans Seram, karna kami ingin perjalanan ini
benar-benar murni dari titik 0 Mdpl pulau Seram Selatan ke titik 0 Mdpl pulau
Seram Utara.
Jam
18:15 LT kondisi jalanan yang kami lalui sudah mulai gelap target desa Alkamat
tidak mungkin lagi dapat dicapai hari ini. Kamipun tiba di Camp Km 5 milik PT.
Yala Persada Angkasa (YPA). setelah sepakat antara team dan atas seijin pemilik
camp akhirnya kami pun nginap disini.
Camp
PT. Yala Persada Angkasa (YPA) adalah satu-satunya camp milik perusahaan ijin
HPH yang masih beroperasi sejak terndinya kerusuhan maluku 1999.
Sabtu,
02 Oktober 2004 (Hari – 15)
Jam
06:00 LT kamipun sudah bersiap dan setelah selesai sarapan jam 08:00 LT kamipun
mulai berangkat meninggalkan Camp km 5 tersebut. Sebelumnya pihak camp sudah
menawarkan tumpangan menuju desa Alkamat akan tetapi kami tolak dengan alasan
ekspedisi ini harus benar-benar murni jalan kaki.
Setelah
melalui jalur yang sama seperti kemarin (jalur logging & pengerasan) jam
09:30 LT kamipun tiba di Desa Alkamat (0 Mdpl) tepatnya di kantor PT. Yala
Persada Angkasa (YPA). Dan dikantor inilah kami meminta bantuan speed boat
milik perusahaan untuk menyebrangkan kami dari desa Alkamat ke desa Saka.
Setelah
makan siang dan mendapatkan bantuan angkutan speed boad, jam 14:00 perjalanan
dilanjutkan melintasi teluk Wahai menuju desa Saka menumpangi speed boat milik
PT. Yala Persada Angkasa (YPA), dan sekitar 1 jam kamipun tiba di saka kemudian
melanjutkan perjalanan menggunakan mobil carteran. Jam 17:20 kamipun tiba di
kota Masohi untuk beristirahat.
Sekelumit
cerita ini merupakan cerita lepas, selama perjalanan banyak memberikan
pelajaran yang berharga kepada kami dimana mental dan fisik kami benar-benar di
uji oleh ganasnya medan hutan gunung pulau Seram, ada rasa sedih, emosi,
empati, gembira dan rasa kekeluargaan yang menyatukan kami.
Liku-liku perjalanan
yang kami lalui selama 13 hari berjalan kaki mulai titik 0 Mdpl selatan pulau
Seram mendaki ke 3027 Mdpl kemudian menuju kembali ke titik 0 Mdpl selatan
pulau seram menjadikan kami menjadi orang-orang yang menghargai ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa, belajar saling menghargai, bekerja sama dan saling mengasihi
antar sesama.
Cerita
ini di persebahkan untuk Anggota MATEPALA Unpatti dan untuk keluarga dan anak
cucu kami kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar