Kamis, 25 Januari 2018

Zero to Zero Point Expedition (Part 3)

Summit Party

Selasa, 28 September 2004 (Hari – 11)
Sejak jam 05:00 LT menunggu hilangnya kabut tebal sambil mempersiapkan perlengkapan, pada jam jam 08:30 LT setelah jarak pandang kami anggap sudah memungkikan  kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju Waipuku dan akhirnya jam 09:50 LT kamipun tiba di Waipuku (3025 Mdpl).
Waipuku (3025 Mdpl) adalah teras dari Puncak Mutiara Nusa Ina (3027 Mdpl) dimana terdapat air berbentuk danau dangkal yang lebih tepatnya kubangan mungkin yang cukup luas, tempat binatang terutama rusa untuk sekedar singgah dan minum disitu, hal ini dapat dilihat dari banyaknya kotoran rusa disekitar danau tersebut.
Dengan adanya sumber air ini yang konon tidak kering di musim panas memungkinkan para pendaki untuk menginap di teras puncak Mutiara Nusa Ina
Setelah mendirikan camp dan makan siang dengan gerimis yang mulai berhenti sekalian menuggu cuaca cerah, jam 13:10 kami seluruhnya menuju titik tertinggi di Maluku yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia, Gunung Binaiya Puncak Mutiara Nusa Ina (3027 Mdpl) dan berdoa mengucap syukur atas perjalanan yang cukup berat dilalui dalam beberapa hari ini kemudian merayakan summit party sampai dengan jam 14:00 LT seluruh anggota tim kembali ke camp untuk beristirahat menuggu pemandangan puncak di sore hari. Tepat pukul 22:00 setelah makan malam & briefing evaluasi perjalanan masih di camp Waipuku masing-masing anggota tim beristirahat untuk memulihkan tenaga besok pagi.

Rabu, 29 September 2004 (Hari – 12)
Dimulai bangun pagi jam 05:00 LT sambil bersiap sarapan dan menikmati sunrise dari puncak setelah itu seluruh anggota melaksanakan packing perlengkapan masing-masing untuk kembali ke Desa Kanikeh pada pukul 08:30 dengan cuaca sangat cerah yang mendukung kamipun mulai berjalan meninggalkan Waipuku.
Perjalanan balik dari puncak ini tidak sesulit seperti  perjalan waktu pergi, cuaca yang cukup baik dengan kecepatan angin tidak terlalu kecang, jalur yang dilalui sudah cukup jelas karna sudah dibersikan pada saat perjalanan menuju puncak dan yang lebih enak lagi karna banyak bonus turunan tentunya…..hehehehe
Tak terasa 1 jam perjalanan tibalah kami di Waihuhu dsan cuaca pun mulai gerimis tapi untunglah tidak berkabut sehingga masih memudahkan kami dalam memeprtahankan kecepatan langkah menuruni jalur menuju wayansela dan tiba di Wayasela jam 13:00 LT kamipun beristirahat & langsung makan siang dengan nasi yang memang telah dimasak tadi pagi sebelum start dari Waupuku. Hal ini dapat menghemat waktu karna kami tidak perlu berlama-lama lagi menunggu nasi matang dulu baru makan.
Setelah makan siang perjalanan ditunda lagi karna hujan mulai lebat diselingi dengan petir sehingga sangatlah tidak aman melakukan perjalanan jika terjadi banyak petir. Akhirnya jam 14:30 LT hujan mulai reda & petir pun sudah berhenti, kamipun langsung melajutkan perjalanan mengejar waktu yang tebuang.
Cuaca sudah agak cerah walaupun masih terdapat sedikit gerimis jam 15:30 LT tibalah kami di sungai Waiule yang merupakan perbatasan atau pintu masuk ke Desa Kanikeh dari sini perjalanan sekitar 1 jam ke Desa Kanikeh. Kamipun beritirahat kemudian lanjut perjalanan tepat pada pukul 17:00 LT kamipun tiba di Desa Kanikeh untuk beristirahat.

Kamis, 30 September 2004 (Hari – 13)
Masih terekam euforia summit party kemarin hari ini kami terlambat bangun pagi jam 07:30 LT baru bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya dan setelah mengurus segala administrasi terkait sumbangan Adat dan bayaran Porter 2 orang Kanikeh jam 10:30 LT kamipun berpamitan untuk melajutkan perjalanan menuju ke arah Utara pulau Seram tepatnya di desa Alkamat kecamatan Wahai Seram utara dengan melewati rute camp 27 (camp 27 merupakan camp milik perusahaan kayu pemegang HPH).
Sejak keluar dari Desa Kanikeh medan yang kami lalui cukup beragam dan cukup berat dimulai dari jembatan gantung di ujung desa Kanikeh, kami harus menyusuri sungai yang agak dalam dengan debit yang cukup deras akibat hujan beberapa hari ini kemudian berjalan menipir lembah, mendaki dan menurun, dengan cuaca yang mulai panas jam 14:00 LT kami menyebrangi sungai Waisamata yang aliran arusnya sangat deras dengan debit yang cukup tinggi akibat curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun sehingga dibutuhkan teknik penyebrangan sungai yang baik, setelah menyeberangi sungai kamipun treeking kebukit dimana ditemukan kebun milik masyarakat entah masyarakat Kanikeh atau Roho. Disinilah kami istirahat sejenak dan makan siang.
Setelah beristirahat 45 menit kemudian kamipun Lanjut langsung full treeking lagi ± 20 menit kemudian jalurnya landai melewati hutan yang agak rindang. Setelah beberapa menit menikmati kerindangan jalur yang dilalui mulai memasuki masuk jalur logging dengan medan bervariasi naik dan turun dibawah cahaya matahari yang cukup terik dan kurangnya sumber air selama di perjalanan jalur logging ini sehingga memaksa kami harus menghemat air yang kami diminum selama perjalanan.  
Hari mulai gelap jam 17:45 LT kamipun memasuki camp 27 yang saat ini tidak lagi berbentuk camp akan tetapi lebih berbentuk sebuah kampung. Kamipun sempat bertanya-tanya apakah salah tempat atau salah jalan, karna jalur ex logging yang kami lalui sebelumnya merupakan jalur yang pernah dilalui oleh senior-senior kami sebelumnya dalam ekpedisi Polygon tahun 2000 bersama Tim Kopassus. Pertanyaan kami terjawab setelah tiba di Camp 27 yang sudah dihuni oleh masyarakat desa Roho dan menurut cerita Kepala Desa setempat sejak kerusuhan tahun 1999 Desa Roho telah kosong, masyarakat Desa Roho berpindah dari desa lama ke Camp ini dengan alasan keamanan dan jaraknya lebih dekat jika mereka mendatangi desa-desa pesisir pantai utara pulau Seram.
Camp 27 sendiri merupakan eks camp pekerja perusahaan kayu PT. Wanapotensi Nusa yang berhenti operasi sejak kerusuhan tahun 1999, pekerjanya yang merasa terancam akhirnya meniggalkan lokasi camp dan kembali ke daerahnya masing-masing.
Menurut cerita sebagian masyarakat setempat biasanya berpindahnya letak sebuah desa/dusun di sebabkan oleh beberapa hal yaitu faktor Keamanan, faktor lingkungan dimana sumber mata air atau air sungai yang mengering, bencana alam, dan faktor kematian mendadak atau beruntun.
Yang unik disini adalah faktor kematian mendadak dan beruntun ini, diyakini mereka bahwa jika ada beberapa masyarakat dusun/desa yang meninggal secara bersamaan atau beururutan dalam beberapa hari akibat wabah atau tanpa sebab maka dusun/desa tersebut dianggap sebagai tanda-tanda atau peringatan dari leluhur mereka dan mengharuskan mereka harus berpindah tempat atau lokasi baru.
Setelah makan malam karna kecapean jam 20:00 LT kamipun beristirahat untuk memulihkan tenaga untuk persiapan menghadapi perjalanan besok melewati beberapa sungai dan anak sungai lagi dengan target Desa Alkamat melewati Dusun Huaolu/Naulu.

Jumat, 01 Oktober 2004 (Hari – 14)
Kami berusaha bangun lebih awal, jam menujukkan pukul 06:00 LT kami sudah bersiap-siap berangkat dan perjalanan kamipun terkendala dengan masih tingginya air sungai dan derasnya debit sungai Waimu yang terletak tidak jauh dari Camp 27, akhirnya kamipun mengurungkan niat berangkat pagi-pagi dan menuggu debit air sungai menurun. Sekitar 2 jam kami menuggu di dekat sungai akhirnya jam 09:00 LT kamipun mencoba mengukur ketinggian air sungai dan ternyata sudah bisa kami lalui walaupun airnya masih setinggi dada sampai leher. Debit air yang masih cukup deras membuat kami harus hati ekstra hati-hati dalam menyebrang, beberapa kali kami harus menggunakan tali untuk membantu kami dalam menyebrang agar tidak hanyut terbawa sungai.
Setelah 30an menit menyebrangi singai Waimu dan beberapa menit melintasi medan landai kami kembali menyeberangi sungai Waina. Sungai ini tidak terlalu dalam hanya sebatas betis sampai lutut dengan debit aliran yang sedang dan kurang lebih 30 menit menyebrang dan menyusur sungai kamipun melewati percabangan dan melewati sungai Waitoko. Sungai Waitoko ini merupakan anak sungai percabangan dari sungai-sungai besar lainnya sehingga debit airnya tidak deras dan ketinggian airnya juga hanya sebatas betis.
Jam 11:00 LT barulah kami terbebas dari jalur masuk keuar sungai-sungai ini dan mulai melakukan treeking sekitar 1 jam lebih akhirnya kamipun tiba di dusun Hualo atau biasa disebut juga Dusun Naulu karna suku yang menghuni dusun ini adalah suku Naulu yang merupakan salah satu suku penduduk asli pulau Seram.
Ada yang menarik dari dusun Hualo dimana rumah yang dibangun merupakan rumah yang cukup besar (istilahnya rumah panjang) dan  dalam 1 rumah panjang ini dihuni oleh beberapa Kepala keluarga dengan jumlah orang 10 – 20 orang disetiap rumah sehingga 1 dusun hanya terlihat beberapa rumah saja.
Setelah makan siang dan beristirahat 13:30 LT kamipun berpamitan dengan bapak Raja dan masyarakat dusun melanjutkan perjalanan menuju desa Alkamat. setelah beberapa saat meninggalkan dusun Hualolu kami kembali dihadapkan dengan jalur logging. Sekitar 3 jam perjalanan kami harus melalui tanjakan dan turunan jalur logging dengan lebar jalur sekitar 10 – 15 meter. Dengan persediaan air yang minim dan tidak adanya aliran sungai serta cuaca yang cukup panas membuat perjalanan < 20 Km menuju desa Alkamat serasa sangat panjang dan membosankan.
Hari sudah mulai senja, sekitar jam 16:00 LT kamipun tiba di percabangan jalan logging dengan jalur jalan trans Pulau seram yang menghubungkan antara Masohi dengan daerah-daerah di pulau Seram Utara. Kamipun tetap memilih melewati jalur logging daripada menuggu mobil trans Seram, karna kami ingin perjalanan ini benar-benar murni dari titik 0 Mdpl pulau Seram Selatan ke titik 0 Mdpl pulau Seram Utara. 
Jam 18:15 LT kondisi jalanan yang kami lalui sudah mulai gelap target desa Alkamat tidak mungkin lagi dapat dicapai hari ini. Kamipun tiba di Camp Km 5 milik PT. Yala Persada Angkasa (YPA). setelah sepakat antara team dan atas seijin pemilik camp akhirnya kami pun nginap disini.
Camp PT. Yala Persada Angkasa (YPA) adalah satu-satunya camp milik perusahaan ijin HPH yang masih beroperasi sejak terndinya kerusuhan maluku 1999.

Sabtu, 02 Oktober 2004 (Hari – 15)
Jam 06:00 LT kamipun sudah bersiap dan setelah selesai sarapan jam 08:00 LT kamipun mulai berangkat meninggalkan Camp km 5 tersebut. Sebelumnya pihak camp sudah menawarkan tumpangan menuju desa Alkamat akan tetapi kami tolak dengan alasan ekspedisi ini harus benar-benar murni jalan kaki.
Setelah melalui jalur yang sama seperti kemarin (jalur logging & pengerasan) jam 09:30 LT kamipun tiba di Desa Alkamat (0 Mdpl) tepatnya di kantor PT. Yala Persada Angkasa (YPA). Dan dikantor inilah kami meminta bantuan speed boat milik perusahaan untuk menyebrangkan kami dari desa Alkamat ke desa Saka.
Setelah makan siang dan mendapatkan bantuan angkutan speed boad, jam 14:00 perjalanan dilanjutkan melintasi teluk Wahai menuju desa Saka menumpangi speed boat milik PT. Yala Persada Angkasa (YPA), dan sekitar 1 jam kamipun tiba di saka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil carteran. Jam 17:20 kamipun tiba di kota Masohi untuk beristirahat.
Sekelumit cerita ini merupakan cerita lepas, selama perjalanan banyak memberikan pelajaran yang berharga kepada kami dimana mental dan fisik kami benar-benar di uji oleh ganasnya medan hutan gunung pulau Seram, ada rasa sedih, emosi, empati, gembira dan rasa kekeluargaan yang menyatukan kami. 
Liku-liku  perjalanan yang kami lalui selama 13 hari berjalan kaki mulai titik 0 Mdpl selatan pulau Seram mendaki ke 3027 Mdpl kemudian menuju kembali ke titik 0 Mdpl selatan pulau seram menjadikan kami menjadi orang-orang yang menghargai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, belajar saling menghargai, bekerja sama dan saling mengasihi antar sesama.
Cerita ini di persebahkan untuk Anggota MATEPALA Unpatti dan untuk keluarga dan anak cucu kami kelak.



(Tamat)


Lhagielo MATEPALA Lalea Leisei due Yalepua


Masohi, 03 Oktober 2004 - MTP 0197071 CRN  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar