Kamis,
23 September 2004 (Hari - 6)
Jam
06.30 LT, dengan cuaca yang sedikit lebih cerah dan setelah sarapan jam 08:30
LT perjalanan dilanjutkan dengan treeking dengan sudut tanjakan yang lumayan
tinggi menuju puncak Nasalala dan tiba di puncak Nasalala (1753 mdpl) jam 09:45
LT. Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan dengan target Liang 4 untuk
istirahat dan makan siang.
Sejak
penurunan dari puncak Nasalala anggota tim mulai jalan terpisah dengan jarak
yang cukup berjauhan dan jam 11:15 LT sebagian anggota telah tiba di Wai Mutula
1331 mdpl (sumber air pertama setelah sungai Waitapa Kastamu) setelah anggota
tim berkumpul kembali dan mengisi persediaan air perjalan dilanjutkan sampai
jam 12.25 tiba di Liang 4 (dinamakan liang Pasaseha) 1170 mdpl untuk istirahat
sekaligus makan siang. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan cuaca hujan yang
cukup lebat jam 14:40 Lt kami mulai melewati rawa-rawa, hutan Bambu dan hutan
pohon sagu. Perjalanan di hutan bambu dan sagu ini cukup berat dikarenakan
sebagian lahan hutan terendam air setinggi lutuh dan terkadang sampai di dada. Di
hutan bambu ini yaken sempat terjatuh dan kakinya terkena irisan bambu dengan
luka yang cukup dalam hal ini terjadi dikarenakan selama melintasi jalur ini
dia hanya menggunakan sendal.
Sekitar
30 Menit melintasi hutan bambu dan sagu tibalah kami di areal perkebunan
masyarakat Desa Manusela. Perjalanan yang dilalui pun sudah mulai landai
sehingga terkadang kami berlari-lari kecil seolah-olah tidak ada rasa lelah dan
beratnya beban carrier yang kami panggul di pundak kami. Jam 16.00 LT tibalah
kami di rumah Kepala Desa / Bapak Raja Desa Manusela (781 mdpl) untuk melapor
kedatangan kami.
Yang
mengesankan dari kunjungan kami di Desa Mausela adalah adanya buku tamu yang
harus kami isi dan dari daftar tamu-tamu yang berkunjung di Desa ini sebagian
besar adalah para pengunjung dari luar negeri dan kami menemukan sebagian kecil
orang Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Desa Manusela ... . Hebat Khan
!!!
Akhirnya
kelelahan yang kami alami sejak perjalanan hari 1 terbayar dengan hangatnya
kopi pahit, makan malam kentang rebus yang juni peroleh di
perkebunan masyarakat diujung desa Manusela, sayur paku dan pecel dengan bumbu
yang kami bawa dari kota untuk makan malam kolaborasi menu dari ibu Kepala Desa
dengan chief Juni.
Ada
cerita lucu yang terjadi di sini, ternyata masyarakat mengira salah satu
anggota kami adalah Tentara Intel (Kopassus) yang sedang menjalankan tugas
mengamati perkembangan pasca kerusuhan maluku dan pelaksanaan pemilu Presiden
putaran ke-2. Hal inipun tidak pernah ditanyakan kepada kami, tetapi ditanyakan
kepada porter yang mengantar kami. Meskipun kami mengaku sebagai mahasiswa
pecinta alam dengan memeprlihatkan dokumen / surat-surat ijin dan rekomendasi
pendakian dari Gubernur tetap saja mereka kurang yakin dengan potongan salah
satu anggota kami yang memang lebih mirip Tentara dari Mahasiswa J
Setelah
bercengkrama dengan Bapak Raja dan tokoh masyarakat jam 21:00 kamipun mohon
ijin untuk beristirahat untuk persiapan perjalanan besoknya.
Jumat,
24 September 2004 (Hari - 7)
Sesuai
schedule jam 06.30 LT mulai dilakukan aktifitas jemur-jemur perlengkapan yang
basah selama perjalanan sementara Lukman dan Yaken sibuk mengobati lukanya
masing-masing. setelah sarapan dan melakukan kegiatan sosped ke masyarakat
dengan membagikan bibit sayuran dan menjelaskan cara menanamnya kemudian kami
melakukan pertemuan dan wawancara singkat dengan beberapa tokoh masyarakat
serta melakukan kunjungan ke sekolah dasar tujuan kami adalah mengumpulkan
informasi tentang kondisi masyarakat, kesehatan dan pendidikan yang ada di Desa
Manusela .
Setelah
diperoleh cukup data yang dibutuhkan, jam 09:00 LT kamipun berpamitan untuk
melanjutkan perjalanan ±15 menit tibalah kami di dusun Maraina yang
merupakan tetangga dari Desa Manusela.
Saat
tiba kami langsung melapor ke Kepala Dusun dan langsung melanjutkan perjalanan
mulai memasuki medan yang cukup bervariasi (hutan Bambu dan padang ilalang)
dengan suhu yang berlawanan 180 O dari perjalan hari-hari
sebelumnya yaitu panas yang cukup menyengat kulit. Perjalanan terus berlanjut
hinggan Jam 13:15 LT sampailah kami di sungai Waiisal (721 mdpl) untuk
istirahat dan makan siang.
Perjalananan
dilanjutkan kembali jam 14.30 LT dengan menyusuri sungai Waiisal sampai tiba di
dusun Selumena (758 mdpl) jam 16.30 LT. dusun Selumena hanya di huni oleh 12 KK
cukup sepi untuk sebuah dusun. Dari dusun Selumena sebelah selatan telah
terllihat gunung Binaiya sebelah Barat yang berdampingan dengan gunung Murkele
Besar yang terletak disebelah timur cukup memacu gairah dan semangat kami untuk
segera sampai di tujuan Desa berikutnya (desa Kanikeh).
Dengan
pertimbangan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar yang cukup
memprihatinkan dibandingkan dengan Desa-desa yang kami lewati sebelumnya, kami
pun meminta ijin untuk mengeluarkan logistik yang kami bawa untuk dimasak makan
malam dan setelah makan malam dan bersiraturrahmi dengan Kepala Dusun dan
beberapa warga dusun, jam 20 : 00 kamipun minta ijin untuk beristirahat.
Sabtu,
25 September 2004 (Hari - 8)
Seperti
hari-hari sebelumnya jam 06.30 LT kami sudah siap-siap dan sarapan ala-ala
Chief Juni, kemudian melakukan pembagian bibit sayuran dan pengumpulan
informasi dari masyarakat dusun jam 09:00 LT kamipun berpamitan untuk
melanjutkan perjalanan dengan target Desa Kanikeh.
Begitu
berada di ujung dusun, perjalanan dimulai lagi dengan menyusur sungai Waiisal
masuk hutan Seso secara bergantian beberapa kali yang membuat perjalanan
menjadi cukup membosankan. Melewati jalur ini kami dibantu oleh warga dusun Selumena
yang bernama pak Yance. Jalur yang dilewati kali ini memiliki tantangan yang
berbeda bukan karna kontur medannya akan tetapi banyaknya jalur-jalur yang
sebenarnya merupakan jalur tipuan jebakan untuk menggiring binatang masuk
kedalam perangkap / dudeso / jebakan untuk menangkap hewan Babi atau Rusa
sehingga tidak direkomendasikan untuk jalan sendiri tanpa didampingi oleh orang
yang benar-benar paham / menguasau jalur di daerah ini untuk itu dari pak Yance
ini sangat pengting untuk membabaskan kami dari jalur-jalur tipuan tersebut.
Masih
tetap di tepian jalur sungai Waiisal Jam 11:50 LT sampailah kami untuk
beristirahat dan makan siang di sekitar batu-batuan mirip jembatan yang telah
rusak / longsor (konon disini pernah dibangun jembatan oleh misionaris
berkebangsaan Belanda untuk memudahkan akses masyarakat dari dusun Selumena ke
Desa Kanikeh). Menurut pak Yance bahwa mulai jembatan batu jalur yang akan
dilalui sudah aman dari dudeso / jebakan-jebakan hewan dan setelah makan siang
jam 13:00 LT kami melanjutkan perjalanan tanpa pak Yance yang kembali ke dusun
Selumena.
Masih
dengan medan yang sama sebelumnya (menyusuri sungai dan mesuk hutan secara
bergantian) jam 15.00 LT tibalah kami di Desa Kanikeh (650 mdpl) langsung kami
menuju ke rumah adat dan bertemu dengan Bapak Raja / kepala desa Kanikeh untuk
melaporkan kedatangan kami di Desa Kanikeh.
Jam
19:30 setelah mandi dan makan malam kamipun berembuk dengan bapak Raja dan
tokoh adat untuk merencanakan acara adat, penentuan guide / porter, lokasi dan
perencanaan perjalanan ke Puncak Binaiya (Puncak Mutiara Nusa Ina) 3027 mdpl.
Dan diputuskan 2 orang yaitu 1 guide dan 1 porter lokal desa Kanike akan
bergabung dengan kami untuk ke puncak Binaiya yaitu Bpk Frankois Lilimau (kois)
dan Israel Lilimau (Eris).
Dikarenakan
anggota personil bertambah 2 (dua) orang sehingga jumlah anggota yang akan ke
Puncak adalah 11 Orang maka tim melakukan pengaturan logistik ulang, setelah
semuanya beres jam 22:00 LT kamipun beritirahat.
Porter
dari desa Kaniken ini wajib ada dan ditentukan oleh Bapak Raja dan para tetuah
adat setempat dan untuk menghormati kebiasaan dan adat istiadat setempat maka
kamipun mengikuti aturan tersebut.
Minggu,
26 September 2004 (Hari - 9)
Seperti
hari-hari sebelumnya jam 06.30 kamipun dengan bersemangat siap untuk melakukan
perjalanan ke Puncak. Ada yang menarik dari pendakian di gunung binaiya
ini yaitu pada pendaki diwajibkan untuk mengikuti suatu prosesi dimana sebelum
melakukan pendakian secara adat kami akan dilepas oleh Bapak Raja dan tokoh Adat
Desa Kanikeh.
Dalam
prosesi ini setelah Bapak Raja / Tokoh Adat meminta ijin kepada leluhur mereka,
kami diberikan tembakau, sirih & pinang untuk kami kunyah sebagai syarat
bahwa kami telah diijinkan untuk melakukan pendakian di gunung tersebut.
Jam
08:15 LT, perjalanan dimulai dari Desa Kanikeh dengan target Waihuhu. Waihuhu
merupakan tempat strategis untuk mendirikan tenda dikarenakan tempatnya agak
landai dan tersedia aliran air yang cukup banyak. Adapun target perjalanan dari
desa Kanikeh ke Waihuhu adalah sekitar 8 - 10 Jam perjalanan.
Sekitar
1,5 jam perjalanan kamipun tiba di sungai Waiule dan sekitar 30 menit menyusur
sungai Waiule tibalah kami di perbatasan antara dataran landai dengan jalur
treeking. Disini pula merupakan sumber air terakhir yang melimpah dibandingkan
dengan jalur berikutnya. Setelah 2 jam melakukan treeking dengan sudut
pendakian yang lumayan tinggi dengan cuaca yang cukup panas sehingga
memperlambat laju langkah kami, tibalah kami di Wayansela (1066 mdpl) kamipun
beristirahat dan makan siang. Setelah makan siang jam 13.30 LT perjalanan
dilanjutkan dan tidak lama kemudian terjadi hujan yang sangat deras.
Cuaca
di pegunungan binaiya memang sulit di prediksi kamipun harus selalu dalam
kondisi fit dan extra hati-hati dikarenakan perubahan cuaca yang tiba-tiba bisa
berpengaruh terhadap kondisi alam yang kami lalui terutama kejadian longsor
ataupun mungkin air bah yang tiba-tiba turun melintasi jalur pendakian kami .
Baru
30 menit perjalanan Kami kehilangan jalur pendakian, banyak pohon tumbang dan
kondisi tanah longsor. Kurang lebih 5 jam dilakukan orientasi medan dan membuat
alternatif jalur baru, Perjalanan tidak mungkin dilanjutkan, hujan masih lebat,
banyak pohon tumbang dan longsor, Hari mulai gelap. Akhirnya jam 19:00 LT semua
sepakat untuk ngecamp di tempat yang oleh masyarakat setempat dinamakan batu
lesoa (1.730 mdpl). Batu Lesoa inipun sebenarnya bukan tempat yang layak untuk
membuat tenda dikarenakan tempatnya berbentuk kubangan agak sempit dan tidak
cukup untuk membuat banyak tenda, sesuai kondsi yang ada akhirnya hanya
didirikan 3 tenda dan kamipun tidur berdesak-desakan.
Hari
yang cukup melelahkan target menginap di Waihuhu tidak tercapai dengan hujan
yang masih cukup deras jam 22:00 LT kamipun beristirahat untuk memulihkan
tenaga.
Senin,
27 September 2004 (Hari - 10)
Persiapan
dimulai jam 06.30 setelah sarapan dilakukan orientasi medan, cuaca agak membaik
dengan hujan gerimis. Setelah disepakati hasil briefing di putuskan target
berubah yaitu tidak jadi menginap di Waihuhu, perjalanan akan dilanjutkan
setelah makan siang di Waihuhu langsung menuju ke Waipuku. Hal ini dilakukan
untuk mengurangi waktu kami terbuang dihari sebelumnya. Jam 09:30 LT perjalanan
dimulai sesuai schedule yang telah disepakati pada saat briefing.
Perjalan
yang cukup berat dan terasa panjang karna jalur yang dilalui adalah jalur bekas
longsoran dan banyak pohon-pohon yang roboh, bukan hanya kaki kami melangkah
akan tetapi tangan kamipun sibuk menebas-nebas batang pohon yang berukuran
kecil / sedang yang menghalangi jalur jalan kami. Jam 12.30 LT tibalah kami di
Waihuhu (2003 mdpl) kembali terjadi hujan lebat dan angin sehingga diputuskan
makan siang diganti menjadi ngemil. Setelah 1,5 jam bertahan di waihuhu sambil
menuggu hujan / angin reda jam 14.00 LT kamipun langsung bergerak dengan target
tiba Waipuku pada sore hari.
Hampir
1,5 jam perjalanan treeking pada saat tiba di batas vegetasi (2250 mdpl) kami
kembali menghadapi kondisi kabut turun dengan sangat cepat yang menyebabkan
berkurangnya jarak pandang. Hal ini tentunya sangat berbahaya dengan jarak
pandang yang hanya sekitar 1 meter kami harus melalui jalur tanjakan yang cukup
curang dengan kondisi kiri dan kanan terdapat jurang yang cukup dalam. Dalam
kondisi kabut tebal dan sesekali hujan anggota tim saling terpisah untunglah
bang Dullah selaku porter sekaligus penunjuk jalan berinisiatif memberitahukan
kepada anggota yang diatas jangan bergerak dan anggota dari bawah tetap
bergerak agar seluruh anggota tim dapat berkumpul kembali di satu titik.
Beberapa
menit selanjutnya seluruh anggota dapat berkumpul di satu titik dan tepatnya
jam 17:00 LT dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan karna kabut tebal dan
udara yang dingin akhirnya kami membuat flying camp untuk beritirahat di jalur
pendakian (2600 mdpl) menuju Waipuku.
Dijalur
yang minim air tersebut, sampai dengan jam 21:00 LT dengan kondisi kabut yang
tebal dan udara yang dingin sebelum seluruhnya beritirahat akhirnya makan malam
hanya berupa sagu lempeng (sejenis makanan orang maluku), coklat atau biskuit dan segelas teh / coklat hangat dengan
air yang dimasak di dalam tenda.
(Bersambung.....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar