Kamis, 25 Januari 2018

Zero to Zero Point Expedition (Part 2)

Petualangan Binaiya


Kamis, 23 September 2004 (Hari - 6)
Jam 06.30 LT, dengan cuaca yang sedikit lebih cerah dan setelah sarapan jam 08:30 LT perjalanan dilanjutkan dengan treeking dengan sudut tanjakan yang lumayan tinggi menuju puncak Nasalala dan tiba di puncak Nasalala (1753 mdpl) jam 09:45 LT. Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan dengan target Liang 4 untuk istirahat dan makan siang.
Sejak penurunan dari puncak Nasalala anggota tim mulai jalan terpisah dengan jarak yang cukup berjauhan dan jam 11:15 LT sebagian anggota telah tiba di Wai Mutula 1331 mdpl (sumber air pertama setelah sungai Waitapa Kastamu) setelah anggota tim berkumpul kembali dan mengisi persediaan air perjalan dilanjutkan sampai jam 12.25 tiba di Liang 4 (dinamakan liang Pasaseha) 1170 mdpl untuk istirahat sekaligus makan siang. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan cuaca hujan yang cukup lebat jam 14:40 Lt kami mulai melewati rawa-rawa, hutan Bambu dan hutan pohon sagu. Perjalanan di hutan bambu dan sagu ini cukup berat dikarenakan sebagian lahan hutan terendam air setinggi lutuh dan terkadang sampai di dada. Di hutan bambu ini yaken sempat terjatuh dan kakinya terkena irisan bambu dengan luka yang cukup dalam hal ini terjadi dikarenakan selama melintasi jalur ini dia hanya menggunakan sendal.
Sekitar 30 Menit melintasi hutan bambu dan sagu tibalah kami di areal perkebunan masyarakat Desa Manusela. Perjalanan yang dilalui pun sudah mulai landai sehingga terkadang kami berlari-lari kecil seolah-olah tidak ada rasa lelah dan beratnya beban carrier yang kami panggul di pundak kami. Jam 16.00 LT tibalah kami di rumah Kepala Desa / Bapak Raja Desa Manusela (781 mdpl) untuk melapor kedatangan kami.
Yang mengesankan dari kunjungan kami di Desa Mausela adalah adanya buku tamu yang harus kami isi dan dari daftar tamu-tamu yang berkunjung di Desa ini sebagian besar adalah para pengunjung dari luar negeri dan kami menemukan sebagian kecil orang Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Desa Manusela ... . Hebat Khan !!!
Akhirnya kelelahan yang kami alami sejak perjalanan hari 1 terbayar dengan hangatnya kopi pahit,   makan malam kentang rebus yang juni peroleh di perkebunan masyarakat diujung desa Manusela, sayur paku dan pecel dengan bumbu yang kami bawa dari kota untuk makan malam kolaborasi menu dari ibu Kepala Desa dengan chief Juni.
Ada cerita lucu yang terjadi di sini, ternyata masyarakat mengira salah satu anggota kami adalah Tentara Intel (Kopassus) yang sedang menjalankan tugas mengamati perkembangan pasca kerusuhan maluku dan pelaksanaan pemilu Presiden putaran ke-2. Hal inipun tidak pernah ditanyakan kepada kami, tetapi ditanyakan kepada porter yang mengantar kami. Meskipun kami mengaku sebagai mahasiswa pecinta alam dengan memeprlihatkan dokumen / surat-surat ijin dan rekomendasi pendakian dari Gubernur tetap saja mereka kurang yakin dengan potongan salah satu anggota kami yang memang lebih mirip Tentara dari Mahasiswa J
Setelah bercengkrama dengan Bapak Raja dan tokoh masyarakat jam 21:00 kamipun mohon ijin untuk beristirahat untuk persiapan perjalanan besoknya.

Jumat, 24 September 2004 (Hari - 7)
Sesuai schedule jam 06.30 LT mulai dilakukan aktifitas jemur-jemur perlengkapan yang basah selama perjalanan sementara Lukman dan Yaken sibuk mengobati lukanya masing-masing. setelah sarapan dan melakukan kegiatan sosped ke masyarakat dengan membagikan bibit sayuran dan menjelaskan cara menanamnya kemudian kami melakukan pertemuan dan wawancara singkat dengan beberapa tokoh masyarakat serta melakukan kunjungan ke sekolah dasar tujuan kami adalah mengumpulkan informasi tentang kondisi masyarakat, kesehatan dan pendidikan yang ada di Desa Manusela .
Setelah diperoleh cukup data yang dibutuhkan, jam 09:00 LT kamipun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ±15 menit tibalah kami di dusun Maraina yang merupakan tetangga dari Desa Manusela.
Saat tiba kami langsung melapor ke Kepala Dusun dan langsung melanjutkan perjalanan mulai memasuki medan yang cukup bervariasi (hutan Bambu dan padang ilalang) dengan suhu yang berlawanan 180 O dari perjalan hari-hari sebelumnya yaitu panas yang cukup menyengat kulit. Perjalanan terus berlanjut hinggan Jam 13:15 LT sampailah kami di sungai Waiisal (721 mdpl) untuk istirahat dan makan siang.
Perjalananan dilanjutkan kembali jam 14.30 LT dengan menyusuri sungai Waiisal sampai tiba di dusun Selumena (758 mdpl) jam 16.30 LT. dusun Selumena hanya di huni oleh 12 KK cukup sepi untuk sebuah dusun. Dari dusun Selumena sebelah selatan telah terllihat gunung Binaiya sebelah Barat yang berdampingan dengan gunung Murkele Besar yang terletak disebelah timur cukup memacu gairah dan semangat kami untuk segera sampai di tujuan Desa berikutnya (desa Kanikeh).
Dengan pertimbangan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar yang cukup memprihatinkan dibandingkan dengan Desa-desa yang kami lewati sebelumnya, kami pun meminta ijin untuk mengeluarkan logistik yang kami bawa untuk dimasak makan malam dan setelah makan malam dan bersiraturrahmi dengan Kepala Dusun dan beberapa warga dusun, jam 20 : 00 kamipun minta ijin untuk beristirahat.

Sabtu, 25 September 2004 (Hari - 8)
Seperti hari-hari sebelumnya jam 06.30 LT kami sudah siap-siap dan sarapan ala-ala Chief Juni, kemudian melakukan pembagian bibit sayuran dan pengumpulan informasi dari masyarakat dusun jam 09:00 LT kamipun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan dengan target Desa Kanikeh.
Begitu berada di ujung dusun, perjalanan dimulai lagi dengan menyusur sungai Waiisal masuk hutan Seso secara bergantian beberapa kali yang membuat perjalanan menjadi cukup membosankan. Melewati jalur ini kami dibantu oleh warga dusun Selumena yang bernama pak Yance. Jalur yang dilewati kali ini memiliki tantangan yang berbeda bukan karna kontur medannya akan tetapi banyaknya jalur-jalur yang sebenarnya merupakan jalur tipuan jebakan untuk menggiring binatang masuk kedalam perangkap / dudeso / jebakan untuk menangkap hewan Babi atau Rusa sehingga tidak direkomendasikan untuk jalan sendiri tanpa didampingi oleh orang yang benar-benar paham / menguasau jalur di daerah ini untuk itu dari pak Yance ini sangat pengting untuk membabaskan kami dari jalur-jalur tipuan tersebut.
Masih tetap di tepian jalur sungai Waiisal Jam 11:50 LT sampailah kami untuk beristirahat dan makan siang di sekitar batu-batuan mirip jembatan yang telah rusak / longsor (konon disini pernah dibangun jembatan oleh misionaris berkebangsaan Belanda untuk memudahkan akses masyarakat dari dusun Selumena ke Desa Kanikeh). Menurut pak Yance bahwa mulai jembatan batu jalur yang akan dilalui sudah aman dari dudeso / jebakan-jebakan hewan dan setelah makan siang jam 13:00 LT kami melanjutkan perjalanan tanpa pak Yance yang kembali ke dusun Selumena.
Masih dengan medan yang sama sebelumnya (menyusuri sungai dan mesuk hutan secara bergantian) jam 15.00 LT tibalah kami di Desa Kanikeh (650 mdpl) langsung kami menuju ke rumah adat dan bertemu dengan Bapak Raja / kepala desa Kanikeh untuk melaporkan kedatangan kami di Desa Kanikeh.
Jam 19:30 setelah mandi dan makan malam kamipun berembuk dengan bapak Raja dan tokoh adat untuk merencanakan acara adat, penentuan guide / porter, lokasi dan perencanaan perjalanan ke Puncak Binaiya (Puncak Mutiara Nusa Ina) 3027 mdpl. Dan diputuskan 2 orang yaitu 1 guide dan 1 porter lokal desa Kanike akan bergabung dengan kami untuk ke puncak Binaiya yaitu Bpk Frankois Lilimau (kois) dan Israel Lilimau (Eris).
Dikarenakan anggota personil bertambah 2 (dua) orang sehingga jumlah anggota yang akan ke Puncak adalah 11 Orang maka tim melakukan pengaturan logistik ulang, setelah semuanya beres jam 22:00 LT kamipun beritirahat.
Porter dari desa Kaniken ini wajib ada dan ditentukan oleh Bapak Raja dan para tetuah adat setempat dan untuk menghormati kebiasaan dan adat istiadat setempat maka kamipun mengikuti aturan tersebut.

Minggu, 26 September 2004 (Hari - 9)
Seperti hari-hari sebelumnya jam 06.30 kamipun dengan bersemangat siap untuk melakukan perjalanan ke Puncak. Ada yang menarik dari pendakian di gunung binaiya ini yaitu pada pendaki diwajibkan untuk mengikuti suatu prosesi dimana sebelum melakukan pendakian secara adat kami akan dilepas oleh Bapak Raja dan tokoh Adat Desa Kanikeh.
Dalam prosesi ini setelah Bapak Raja / Tokoh Adat meminta ijin kepada leluhur mereka, kami diberikan tembakau, sirih & pinang untuk kami kunyah sebagai syarat bahwa kami telah diijinkan untuk melakukan pendakian di gunung tersebut.
Jam 08:15 LT, perjalanan dimulai dari Desa Kanikeh dengan target Waihuhu. Waihuhu merupakan tempat strategis untuk mendirikan tenda dikarenakan tempatnya agak landai dan tersedia aliran air yang cukup banyak. Adapun target perjalanan dari desa Kanikeh ke Waihuhu adalah sekitar 8 - 10 Jam perjalanan.
Sekitar 1,5 jam perjalanan kamipun tiba di sungai Waiule dan sekitar 30 menit menyusur sungai Waiule tibalah kami di perbatasan antara dataran landai dengan jalur treeking. Disini pula merupakan sumber air terakhir yang melimpah dibandingkan dengan jalur berikutnya. Setelah 2 jam melakukan treeking dengan sudut pendakian yang lumayan tinggi dengan cuaca yang cukup panas sehingga memperlambat laju langkah kami, tibalah kami di Wayansela (1066 mdpl) kamipun beristirahat dan makan siang. Setelah makan siang jam 13.30 LT perjalanan dilanjutkan dan tidak lama kemudian terjadi hujan yang sangat deras.
Cuaca di pegunungan binaiya memang sulit di prediksi kamipun harus selalu dalam kondisi fit dan extra hati-hati dikarenakan perubahan cuaca yang tiba-tiba bisa berpengaruh terhadap kondisi alam yang kami lalui terutama kejadian longsor ataupun mungkin air bah yang tiba-tiba turun melintasi jalur pendakian kami .
Baru 30 menit perjalanan Kami kehilangan jalur pendakian, banyak pohon tumbang dan kondisi tanah longsor. Kurang lebih 5 jam dilakukan orientasi medan dan membuat alternatif jalur baru, Perjalanan tidak mungkin dilanjutkan, hujan masih lebat, banyak pohon tumbang dan longsor, Hari mulai gelap. Akhirnya jam 19:00 LT semua sepakat untuk ngecamp di tempat yang oleh masyarakat setempat dinamakan batu lesoa (1.730 mdpl). Batu Lesoa inipun sebenarnya bukan tempat yang layak untuk membuat tenda dikarenakan tempatnya berbentuk kubangan agak sempit dan tidak cukup untuk membuat banyak tenda, sesuai kondsi yang ada akhirnya hanya didirikan 3 tenda dan kamipun tidur berdesak-desakan.
Hari yang cukup melelahkan target menginap di Waihuhu tidak tercapai dengan hujan yang masih cukup deras jam 22:00 LT kamipun beristirahat untuk memulihkan tenaga.

Senin, 27 September 2004 (Hari - 10)
Persiapan dimulai jam 06.30 setelah sarapan dilakukan orientasi medan, cuaca agak membaik dengan hujan gerimis. Setelah disepakati hasil briefing di putuskan target berubah yaitu tidak jadi menginap di Waihuhu, perjalanan akan dilanjutkan setelah makan siang di Waihuhu langsung menuju ke Waipuku. Hal ini dilakukan untuk mengurangi waktu kami terbuang dihari sebelumnya. Jam 09:30 LT perjalanan dimulai sesuai schedule yang telah disepakati pada saat briefing.
Perjalan yang cukup berat dan terasa panjang karna jalur yang dilalui adalah jalur bekas longsoran dan banyak pohon-pohon yang roboh, bukan hanya kaki kami melangkah akan tetapi tangan kamipun sibuk menebas-nebas batang pohon yang berukuran kecil / sedang yang menghalangi jalur jalan kami. Jam 12.30 LT tibalah kami di Waihuhu (2003 mdpl) kembali terjadi hujan lebat dan angin sehingga diputuskan makan siang diganti menjadi ngemil. Setelah 1,5 jam bertahan di waihuhu sambil menuggu hujan / angin reda jam 14.00 LT kamipun langsung bergerak dengan target tiba Waipuku pada sore hari.
Hampir 1,5 jam perjalanan treeking pada saat tiba di batas vegetasi (2250 mdpl) kami kembali menghadapi kondisi kabut turun dengan sangat cepat yang menyebabkan berkurangnya jarak pandang. Hal ini tentunya sangat berbahaya dengan jarak pandang yang hanya sekitar 1 meter kami harus melalui jalur tanjakan yang cukup curang dengan kondisi kiri dan kanan terdapat jurang yang cukup dalam. Dalam kondisi kabut tebal dan sesekali hujan anggota tim saling terpisah untunglah bang Dullah selaku porter sekaligus penunjuk jalan berinisiatif memberitahukan kepada anggota yang diatas jangan bergerak dan anggota dari bawah tetap bergerak agar seluruh anggota tim dapat berkumpul kembali di satu titik.
Beberapa menit selanjutnya seluruh anggota dapat berkumpul di satu titik dan tepatnya jam 17:00 LT dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan karna kabut tebal dan udara yang dingin akhirnya kami membuat flying camp untuk beritirahat di jalur pendakian (2600 mdpl) menuju Waipuku. 

Dijalur yang minim air tersebut, sampai dengan jam 21:00 LT dengan kondisi kabut yang tebal dan udara yang dingin sebelum seluruhnya beritirahat akhirnya makan malam hanya berupa sagu lempeng (sejenis makanan orang maluku), coklat atau biskuit dan segelas teh / coklat hangat dengan air yang dimasak di dalam tenda. 

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar