Kamis, 25 Januari 2018

Vandalisme !!!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1989) Vandalisme adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb). Tindakan tidak beradab dan primitif ini sepertinya tidak hanya terjadi di lingkungan kampus atau di dinding kosong saja, namun sudah terjadi di berbagai belahan seluruh dunia sejak jaman dulu. Grafiti merupakan bentuk vandalisme yang paling umum ditemukan di berbagai tempat.

Pertama kali saya mengenal istilah Vandalisme ketika saya berada di suatu kota. Saat itu seorang teman saya menyebut istilah vandalisme ketika kami sedang membicarakan tentang coretan-coretan nama dan tulisan yang tidak jelas di sebuah batu, batang pohon atau apapun media yg biasa kita lihat di alam. Saya pun terpikirkan tentang pendakian pertama saya di Gunung Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Banyak sekali tulisan dan coret-coretan yang kita bicarakan tadi. Setelah saya melakukan beberapa pendakianpun, masih ditemui hal yang demikian.

Apakah benar vandalisme adalah penyaluran ekspresi diri seseorang secara bebas? Saya pribadi tidak sependapat dengan pernyataan itu. Vandalisme menurut saya adalah suatu perilaku yang didorong oleh insting kebinatangan untuk meninggalkan jejak dengan tujuan menunjukkan kekuasaan atas eksistensi diri seseorang.

Seekor anjing hutan membuang hajat (kencing) di sekitar daerah kekuasaannya dengan tujuan sebagai penanda agar anjing hutan yang lain mengakui keberadaannya sehingga mereka tidak berbuat macam-macam di daerah kekuasaannya tersebut. Tidak hanya anjing hutan, namun sebagian besar binatang diketahui menggunakan cara ini untuk membatasi daerah kekuasaannya.

Begitu halnya dengan manusia pelaku vandalisme, mereka menandai keberadaannya kepada orang lain dengan mencorat-coret ataupun menempelkan suatu tanda tertentu yang tidak pada tempat dan fungsinya. Mereka sengaja memilih tempat-tempat yang terlihat ataupun tempat umum sehingga hasil vandalismenya menjadi perhatian banyak orang. Jadi vandalisme tak lebih dari hajat (kotoran manusia, tinja) orang-orang yang tak beradab karena membuangnya di sembarang tempat.

Dengan tulisan ini saya harap para pelaku vandalisme menjadi sadar bahwa perbedaan mereka dengan binatang sangat tipis. Binatang memiliki akal, namun tidak memiliki budi. Sedangkan manusia memiliki kedua-duanya sehingga menjadi mahkluk yang sempurna dan lebih tinggi derajatnya dari binatang.

Jangan lakukan vandalisme selain di rumah atau pekarangan milik Anda sendiri! Oleh karena orang lain juga memiliki hak asasi untuk menikmati kenyamanan, kebersihan, ketertiban dan keindahan lingkungan sekitarnya. Masih banyak cara dan tempat untuk dijadikan sarana ekspresi diri dalam berkesenian selain vandalisme di sembarang tempat. Ingat, vandalisme sama dengan membuang hajat sembarangan!
Ada yang menamakan dirinya sebagai pecinta alam yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam pelestarian alam ini bukan justru sebaliknya. Makna pecinta alam dewasa ini sudah jauh dari makna yang sebenarnya.
Mungkin sudah berubah menjadi “Pelukis Alam”. Pelukis alam disini mungkin bisa di terjemahkan sebagai orang yang suka corat-coret di batu-batu atau di batang-batang pohon.
Para Pecinta Alam bukanlah mereka yang telah menggapai atap-atap dunia, bukan mereka yang berhasil melakukan expedisi yang berbahaya, bukan pula mereka yang ahli dalam mendaki. Tapi mereka adalah orang-orang yang mau menjaga kebersihan lingkungan dimana mereka berada.

Sudah banyak manusia-manusia yang telah menggapai atap-atap dunia, tapi hanya ada sekelompok orang yang benar-benar sebagai pecinta alam. Dari sekelompok pecinta alam, hanya ada beberapa gelintir saja yang benar-benar peduli dengan alam.

Tidak semua yang mengaku Pendaki Gunung adalah Pecinta Alam. Tidak semua yang mengaku Pecinta Alam, Peduli dengan Alam. Semoga kita termasuk segelintir orang yang peduli dengan alam.
(dari berbagai sumber)

MTP 0197071 CRN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar