EXPEDITION TO CERAM ISLAND
BINAIYA MOUNT – 2004
"Sebuah Catatan Perjalanan di Pulau Seram Maluku"
Binaiya
merupakan pegunungan di maluku tepatnya di pulau Seram yang terletak di wilayah
Taman Nasional Manusela. Terdiri dari gunung-gunung tinggi dengan titik
tertinggi Puncak Mutiara Nusa Ina yang memiliki ketinggian 3027 Mdpl. Gunung
binaiya sendiri merupakan gunung yang termasuk dalam jajaran 7 summits
Indonesia. Jika berhitung memang bukan yang tertinggi akan tetapi jika dihitung
medannya lintasan mungkin dapat dikatakan terberat jika jalur yang dilalui
adalah jalur Selatan dimulai dari dusun Hatumete atau Mosso dan berakhir di
Desa Alkamat Seram Utara.
Yang
membuat sangat berbeda dari dengan gunung Binaiya ini, pendaki harus melalui
perjalanan panjang hanya untuk sampai di kaki gunung. Inilah tentangan
tersendiri yang mesti dilalui jika ingin mendaki gunung Binaiya ini. Pendaki
harus memulai dari titik 0 Mdpl melewati trek sungai dan daratan untuk mencapai
kaki gunung Binaiya. Selain itu pendaki juga akan melewai pedesaan di seputaran
Taman Nasional Manusela, meskipun melelahkan namun eksotisme alam dan juga
kultur budayanya bisa menjadi penawar lelah bagi para pendaki.
Perlu
diketahui juga bahwa jalur pendakian di gunung Binaiya ini memiliki medan yang
beragam, pendaki bisa menemukan medan hutan rawa ataupun hutan dengan ekosistem
pantai. Selain itu terdapat juga jalur pendakian dengan nuansa sub alpin dan
juga ekosistem hutan montana. Keberadaan berbagai macam ekosistem alam tersebut
menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki, karena bisa dipastikan akan
menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Sangat tidak disarankan bagi
pemula atau amatir untuk mendaki gunung kars ini, karena selain jalur pendakian
yang jauh, juga ekosistem alam yang berbeda-beda membuat pendakian akan sangat
beresiko.
Yang
unikdari perjalanan yang akan kami lakukan saat ini adalah menggunakan jalur
Selatan – Utara dimulai dari desa Hatumeten/Moso selatan pulau seram di titik 0
Mdpl melalui Taman Nasional Manusela tepatnya di Desa Manusela, Kanikeh, puncak
Binaiya, Kanikeh dan berakhir di desa Alkamat titik 0 Mdpl Seram Utara.
Jalur tersebut terakhir dilalui di tahun 1998 oleh Pendaki dari Makassar
(Mapala Stiem bersama Bang Nevy/Korpala Unhas). Sementara untuk jalur Utara –
Utara sendiri pernah dilalui tahun 2000 pada saat Tim Kopassus melakukan
Ekspedisi Polygon yang melibatkan senior-senior kami dari MATEPALA Unpatti dan
ketua Sekber Pencinta Alam Maluku mas Data Pela.
Jalur
ini tidak pernah lagi dilalui oleh pendaki ataupun peneliti sejak terjadinya
kerusuhan tahun 1999. Dan ini pastilah menjadi tantangan tersendiri karna pasti
sebagian besar jalur telah mengalami perubahan baik telah tertutup ataupun
karna kejadian alam seperti longsor ataupun terkena banjir.
Berikut
kronologis perjalanan dan sedikit cerita mengenai ekspedisi yang kami namakan
Zero to Zero Expedition.
Sabtu,
18 September 2004 (Hari – 1)
Seminggu
sudah keberadaan kami di Masohi (Ibukota Maluku Tengah) untuk mengurus segala
keperluan menyangkut birokrasi untuk pendakian ke G. Binaiya. Setelah segala
urusan menyangkut perijinan beres, kami tinggal menunggu teman-teman yang akan
menyusul dari Ambon.
Tim
kami terdiri dari awalnya terdiri dari 6 orang dengan komposisi 3 anggota
Matepala Unpatti (Juni, Yaken dan saya) sementara Mapala FE Unram Mataram
terdiri atas 3 orang juga (Daeng, Lukman dan Oppiek), dari tim awal ini kami
merasa perlu untuk menambah personil terutama dari tim pendukung mengingat
beratnya medan yang akan dilalui dan lamanya waktu perjalanan. Sehingga
diputuskan untuk menambah 2 orang lagi yaitu Khoko (PPWSPA Kanal Ambon) dan
Amor (KPA. Antegpala Team Ambon).
Kelompok
kecil ini terbagi atas 2 yaitu Juni, Daeng, Khoko dan Amor mengurus Logistik
dan birokrasi di Ambon sedangkan Saya, Yaken, Lukman dan Oppiek mengurus
perijinan pendakian dan lain-lainnya di Masohi.
Tepat
jam 17.30 kelompoknya juni tiba dari ambon dan langsung bergabung di base camp
kami di kost-kosan salah satu rekan kami yang kebetulan sudah menetap dan
bekerja di Dinas Kehutanan masohi (Acha). Setelah segalanya beres malamnya
langsung briefing dan pembagian logistik. Senior-senior kami dari Matepala
(Irpan Syah dan Rustam Latupono) juga sempat hadir untuk memberikan
masukan/informasi dan wejangan-wejangan kepada kami karena memang mereka sempat
beberapa kali mendaki ke Binaiya baik dari jalur utara ataupun dari jalur
selatan. Pembagian logistik dibagi 11 hari waktu perjalanan + 4 hari Emergency)
perhari per orang dengan pembagian 1 orang dapat dua hari, kecuali Amor yang
dapat kantongan + Obat-obatan dan perlengkapan lain yang
kecil-kecil. setelah packing akhirnya semua bisa beristirahat pukul 00.00.
Minggu,
19 September 2004 (Hari – 2)
Kecerahan
Pagi menyambut kami yang sudah siap-siap untuk memulai suatu perjalanan yang
panjang. Setelah semuanya beres kami menuju ke teminal Binaiya yang terletak di
pusat kota Masohi Kab. Maluku Tengah. Karena jumlah kami 8 orang dengan jumlah
barang bawaan yang banyak maka kami memutuskan untuk menaiki mobil carteran
ketimbang mobil penumpang biasa karena setelah dihitung-hitung ongkosnya sama
saja.
Perjalanan
yang ditempuh ± 4 jam dari kota Masohi ke daerah selatan Pulau Seram
tepatnya di kecamatan Tehoru. Setelah istirahat makan siang. Berdasarkan
petunjuk dari salah satu Pejabat TN Manusela (Bpk Margono), perjalanan pun kami
lanjutkan ke Dusun Hatumete. Dengan menggunakan long boat, dalam perjalanan ini
tim kami harus terbagi karena kecilnya long boat (1 buah hanya bisa memuat 3 –
4 orang + bawaan/ransel) jadi long boat yang digunakan sebanyak 3 buah.
Penyebrangan ini memakan waktu 30 – 35 menit. Tiba di Dusun Hatumete pukul 14.30.
setelah melapor ke Kepala Dusun kamipun diperkenankan beristirahat di rumah
pengungsi yang baru dibangun namun belum dihuni oleh pemiliknya.
Seusai
saran dari Bpk. Margono sebelumnya, kami pun mencoba mencari porter/penunjuk
jalan dari masyarakat dusun Hatumete melalui kepala dusun. Sebenarnya pencarian
penunjuk jalan/porter di dusun Hatumete ini adalah pengalaman baru buat kami
karna selama ini penunjuk jalan/porter yang digunakan oleh senior-senior kami
selalu berasal dari dusun Mosso.
Di
dusun Mosso inilah terdapat 2 orang porter yang sudah dikenal baik
oleh senior-senior kami, pendaki lokalan, peneliti ataupun pendaki asing yaitu
Ruslan Tehuayo dan Dullah Tehuayo anak dari Mantan Raja Mosso.
Senin,
20 September 2004 (Hari – 3)
Pagi
hari kami menerima kabar yang kurang mengenakkan yaitu porter yang dijanjikan
oleh Kepala Dusun tidak jadi berangkat karena porter tersebut dan masyarakat
dusun Hatumete umumnya masih takut untuk melakukan perjalanan jauh apalagi
harus masuk keluar daerah yang pernah terkena kerusuhan. Selain itu juga hari
ini adalah hari Pemilihan Umum (Pemilu), untuk menghormati Pesta Demokrasi
tersebut kamipun mengurungkan niat kami untuk berangkat pada hari itu juga,
suatu alasan yang sangat mengecewakan kami.
Sambil
menunggu perkembangan informasi. Setelah makan siang kamipun memutuskan untuk
mencari porter langganan lama kami di Desa sebelah (Desa Mosso) untuk diketahui
jarak antara Dusun Hatumete dan Desa Mosso ± 800 m. setelah ketemu
dengan keluarga Tehuayo akhirnya pada sore hari setelah berpamitan pada warga
Dusun Hatumete kamipun ke Desa Mosso dan langsung di rumah orang tua Porter
langganan kami tersebut (rmh. Bpk. Abd Rahman Tehuayo/Mantan Raja Desa Mosso).
Malamnya
setelah Makan malam, persiapan-persiapan pun dilakukan. Semua barang
dikeluarkan dan di cek ulang oleh Bang Ruslan dan Bang Dullah. Kamipun cukup
kagum dengan kedua orang porter tersebut sebab mereka benar-benar sangat
memperhitungkan semua faktor-faktor yang telah mereka prediksi sebelumnya mulai
dari jumlah logistik dan pembagiannya, kapasitas dan safety tenda yang kami
bawa, perlengkapan team dan pribadi. Semua itu dilaksanakan berdasarkan
prosedur yang biasa dilakukan dengan pendaki asing ataupun peneliti asing yang
biasanya mereka guide.
Memang
dilihat dari umur dan pengalamannya kedua porter ini cukup berpengalaman, bang
Ruslan (umurnya ±36 tahunan) misalnya sudah tidak terhitung lagi keluar
masuk kawasan TN Manusela sekedar untuk menemani pendaki menelusuri TN Nasional
atau ke puncak gunung Binaiya (mutiara Nusa Ina), mencari hasil hutan, berburu
ataupun membawa barang dagangan di dusun-dusun dekitar gunung Binaiya.
Begitupun Bang dullah (umurnya ±33 tahunan) yang dapat sedikit berbahasa
Inggris, sudah sering kali menjadi guide buat para turis/backpacker, peneliti
atau sekedar treeking di kawasan Taman Nasional Manusela atau ke gunung
Binaiya. Sehingga sudah lebih dari 4 kali beliau sampai si puncak tertinggi di
Maluku tersebut. Sampai pada saat kerusuhan pun terjadi Bang Dullah
sempat-sempatnya menjelajah di sekitar TN. Manusela hanya untuk melaksanakan
tugas yang diberikan oleh salah satu Biro Pejalanan dari Eropa untuk mengecek
jalur pendakian, benar-benar hebat bang Dullah ini.
Malamnya
akupun dapat beristirahat dengan tenang menunggu saat-saat pendakian pertamaku
setelah ± 1 tahun lebih terakhir tidak pernah mendaki gunung.
Selasa,
21 September 2004 (Hari – 4)
Dengan
semangat aku dan teman-teman udah bangun pagi-pagi buta (jam 5 pagi) Dan mulai
membuat sarapan, tidak ketinggalan Ibunya bang Ruslan dan dan istrinya bang
Dullah membantu kami untuk menyiapkan sarapan sehingga pukul 06.30 kamipun
sudah sarapan dan packing untuk selanjutnya memulai perjalanan panjang. Dalam
perjalanan ini kami akan diantar oleh bang Dullah sebab bang Ruslan ada urusan
lain sehingga tidak bisa mengantar kami tapi itu bagi kami bukan suatu masalah
sebab bagi kami bang Dullah atau bang Ruslan sama saja.
Setelah
semuanya beres pukul 09.00 kamipun mulai melaksanakan perjalanan dengan porter
kami bang Dullah Tehuayo perjalanan dimulai benar-benar dari titik 0 Mdpl
(berdasarkan altimeter yang kami bawa) sebab rumah tempat kami menginap memang
di tepi pantai.
Sudah ± 2
jam kami berjalan menelusuri jalan yang cenderung menanjak tanpa ada satu
turunan pun hingga semuanya terlihat terseok-seok sampai malah terlihat sampai
muntah-muntah mungkin kurang tidur atau kurang sarapannya. Daerah yang kami
lalui masih daerah yang didominasi dengan pohon cengkeh dan pala dan sesekali
melewati lokasi kebun/ladang masyarakat. Kulihat altimeter ternyata kami masih
diketinggian 400 Mdpl. Puncak gunung Binaiya masih jauh dari pandangan kami
bahkan belum terlihat titiknya sama sekali.
Walaupun
dengan semangat tinggi namun perjalanan yang kami lalui sangatlah membosankan
tanpa ada satu jalur landai yang panjang atau turunan (Bonus), di hari pertama
ini kami mencoba mencari irama langkah yang pas buat kami maklumlah sebelumnya
kami belum pernah melakukan pendakian bersama dengan teman-teman dari Mapala FE
Mataram, KANAL ataupun Antegpala sehingga jarak antara yang satu dengan yang
lain lumayan berjauhan. Setelah beberapa kali beristirahat kecil akhirnya pukul
13.00 LT semua anggota team tiba di Dusun Sinahari.
Dusun
Sinahari ternyata hanya tinggal puing-puing, informasi yang kami peroleh dari
Bang Dullah bahwa pada saat terjadinya konflik/kerusuhan di maluku tahun 1999 -
2000 dengan alasan keamanan masyarakat dusun ini mengungsi ke desa Hatumete,
desa Limampoli dan sebagian ke desa Lahasarani dan desa-desa lainnya, sehingga
setibanya kami di dusun ini tidak terlihat seorang pun kecuali ada beberapa
orang yang kebetulan lewat untuk mencari hasil hutan dan berburu. Kami terus
berjalan hingga tiba di satu-satunya rumah gubuk bambu di ujung dusun yang
dekat dengan sumber air. Disitulah kami beristirahat dan kemudian menyiapkan
makan siang.
Setelah
makan siang kamipun melanjutkan perjalanan kulihat jam tanganku menunjukkan
puku 15.02 LT dan hanya berselang ± 20 menit kamipun tiba di
tempat yang agak landai untuk beritirahat yaitu Liang 1 yang sama masyarakat
disebut liang amarwele. Disebut liang karena daerah ini terdapat batu besar
yang bagian bawahnya menjorok kedalam sehingga bisa dijadikan tempat berlindung
diwaktu hujan ataupun tempat menginap bagi masyarakat pencari rotan dan pemburu
binatang.
Setelah
beristirahat sejenak kamipun melanjutkan perjalanan melewati liang 1,5 cuaca
sudah mulai hujan 30 menit kemudian kamipun melewati kuburan sejengkal (istilah
masyarakat kampung). Cerita masyarakat mengenai kuburan ini simpang siur ada
yang mengatakan kuburan orang pintar adapun yang menganggapnya kuburan anak
kecil karena gundukannya hanya sekira 40 cm dengan nisan kecil diujungnya dan
diatas gundukan terdapat uang-uang logam/koin yang sengaja ditaruh orang yang
melewatinya yang menyakini bisa mendapatkan berkah.
Perjalanan
kami lanjutkan dan sekitar pukul 17.00 LT kamipun tiba di sungai Waiwalala (505
Mdpl) perjalanan yang kami lakukan sangatlah hati-hati sebab menelusuri samping
sungai yang merupakan punggungan gunung hari sudah mulai gelap, bertambah gelap
ditutupi mendung yang mulai tebal. Area ini sangat berbahaya sebab sering
terjadi longsor yang disebabkan oleh erosi air hujan.
Lukman
(Mapala FE Mataram) sempat tergelincir dan jatuh beberapa meter ke jurang
untunglah terselamatkan oleh Carriernya yang tersangkut di pohon yang
menyebabkan cedera lutut. Medan yang lumayan panjang dan berbahaya ini kami
lalui hampir 1,5 jam ini akhirnya membawa kami tiba di kami liang 2 (liang
Silahata) disinilah kami mendirikan tenda untuk bermalam. Liang ini mirip liang
1 hanya lebih luas sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat menginap.
Setelah mendirikan tenda, menyiapkan makan malam kemudian kamipun beristirahat
dengan cuaca hujan sepanjang malam yang sesekali terdengar suara pohon-pohon
roboh karena longsor.
Rabu,
22 September 2004 (Hari – 5)
Mungkin
karena kecapean kamipun bangun agak telat (jam 06.30) sebelumnya terlihat juni
dengan abang dullah sudah bangun duluan sedang menyiapkan sarapan. Kamipun
langsung sarapan dan siap-siap melakukan packing, disaat inilah tepat diatas
lokasi camp tiba-tiba terjadi badai dan longsoran yang menyebabkan robohnya
beberapa pohon dan hujan tanah/batu dan ranting-ranting pohon tua yang menimpa
tenda-tenda kami yang masih berdiri, beberapa piring plastik pecah karena
terkena batu-batu yang jatuh untunglah tenda-tenda tidak robek ataupun patah.
Kamipun berinisiatif untuk menjauhi dari liang 2 menghindari batu-batu/pohon-pohon
roboh kejadian ini berlangsung agak lama untunglah semua anggota tim dalam
keadaan baik dan selamat.
Setelah
keadaan benar-benar aman kamipun segera packing. Pada pukul 10.20 angin dan
hujan belum berhenti mengingat waktu kami yang terbuang cukup banyak, kami
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan kurang lebih 45 menit kamipun tiba
di air terjun dan beristirahat sejenak perjalanan kami lanjutkan
dibawah siraman air hujan dan kencangnya angin hingga tiba di liang 3 (Liang
Malasilahata/1080 Mdpl) pukul 13.20 LT langsung menyiapkan sarapan, karena
kondisi yang tidak memungkinkan kamipun hanya makan Nasi Tim (Nasi kalengan
yang biasanya di bawa oleh TNI) cuaca benar-benar sangat tidak bersahabat semua
kebasahan kecuali juni yang kebetulan membawa payung hehehehe. kondisi lukman
sudah menurun disebabkan pengaruh luka pada lututnya pada waktu tergelincir
dalam perjalanan menuju liang 2.
Setelah
hampir 1 jam setelah makan siang dan beristirahat sambil menuggu cuaca yang
mulai membaik, perjalanan kami dilanjutkan dengan target Puncak Nasalala dan
sekitar 45 menit perjalanan sampailah kita di sungai Waitapa Kastamu (1194
Mdpl). Sungai ini merupakan sungai terakhir hari ini kami mengambil air
sebanyak-banyaknya untuk persiapan.
Perjalanan
dilanjutkan dibawah siraman hujan dan angin yang lumayan menusuk tulang dan
sekitar 1 jam tibalah kami di lokasi yang oleh masyarakat yang sering melewati
jalur tersebut diberi nama Lapangan Inggris (1400 Mdpl) konon dinamakan
lapangan inggris dikarenakan di dataran ini pernah dibuatkan landasan helipad
darurat untuk evakuasi korban Operation Raleigh tahun 1987.
Sekitar
30 menit meninggalkan lokasi ini tim tiba di lokasi yang oleh masyarakat
setempat diberi nama Koritatapotoa (entah apa artinya) sekitar pukul 16:25 LT,
lokasi ini berada di bawah puncak Nasalala, dikarenakan menginap di puncak
Nasalala terlalu beresiko maka masyarakat yang melintas di lebih memilih tempat
ini sebagai tempat menginap, seluruh anggota sepakat untuk beristirahat dan
mendirikan tenda karena sudah pada sudah kecapean dan kedinginan diterpa angin
dan hujan.
Malam
harinya setelah Makan malam seluruhnya langsung beristirahat memulihkan tenaga
untuk perjalanan selanjutnya.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar