Kamis, 25 Januari 2018

Zero to Zero Point Expedition (Part 1)

EXPEDITION TO CERAM ISLAND

BINAIYA MOUNT – 2004

"Sebuah Catatan Perjalanan di Pulau Seram Maluku"

Binaiya merupakan pegunungan di maluku tepatnya di pulau Seram yang terletak di wilayah Taman Nasional Manusela. Terdiri dari gunung-gunung tinggi dengan titik tertinggi Puncak Mutiara Nusa Ina yang memiliki ketinggian 3027 Mdpl. Gunung binaiya sendiri merupakan gunung yang termasuk dalam jajaran 7 summits Indonesia. Jika berhitung memang bukan yang tertinggi akan tetapi jika dihitung medannya lintasan mungkin dapat dikatakan terberat jika jalur yang dilalui adalah jalur Selatan dimulai dari dusun Hatumete atau Mosso dan berakhir di Desa Alkamat Seram Utara.
Yang membuat sangat berbeda dari dengan gunung Binaiya ini, pendaki harus melalui perjalanan panjang hanya untuk sampai di kaki gunung. Inilah tentangan tersendiri yang mesti dilalui jika ingin mendaki gunung Binaiya ini. Pendaki harus memulai dari titik 0 Mdpl melewati trek sungai dan daratan untuk mencapai kaki gunung Binaiya. Selain itu pendaki juga akan melewai pedesaan di seputaran Taman Nasional Manusela, meskipun melelahkan namun eksotisme alam dan juga kultur budayanya bisa menjadi penawar lelah bagi para pendaki.
Perlu diketahui juga bahwa jalur pendakian di gunung Binaiya ini memiliki medan yang beragam, pendaki bisa menemukan medan hutan rawa ataupun hutan dengan ekosistem pantai. Selain itu terdapat juga jalur pendakian dengan nuansa sub alpin dan juga ekosistem hutan montana. Keberadaan berbagai macam ekosistem alam tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki, karena bisa dipastikan akan menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Sangat tidak disarankan bagi pemula atau amatir untuk mendaki gunung kars ini, karena selain jalur pendakian yang jauh, juga ekosistem alam yang berbeda-beda membuat pendakian akan sangat beresiko.
Yang unikdari perjalanan yang akan kami lakukan saat ini adalah menggunakan jalur Selatan – Utara dimulai dari desa Hatumeten/Moso selatan pulau seram di titik 0 Mdpl melalui Taman Nasional Manusela tepatnya di Desa Manusela, Kanikeh, puncak Binaiya, Kanikeh dan berakhir di desa Alkamat titik 0 Mdpl  Seram Utara. Jalur tersebut terakhir dilalui di tahun 1998 oleh Pendaki dari Makassar (Mapala Stiem bersama Bang Nevy/Korpala Unhas). Sementara untuk jalur Utara – Utara sendiri pernah dilalui tahun 2000 pada saat Tim Kopassus melakukan Ekspedisi Polygon yang melibatkan senior-senior kami dari MATEPALA Unpatti dan ketua Sekber Pencinta Alam Maluku mas Data Pela.
Jalur ini tidak pernah lagi dilalui oleh pendaki ataupun peneliti sejak terjadinya kerusuhan tahun 1999. Dan ini pastilah menjadi tantangan tersendiri karna pasti sebagian besar jalur telah mengalami perubahan baik telah tertutup ataupun karna kejadian alam seperti longsor ataupun terkena banjir.

Berikut kronologis perjalanan dan sedikit cerita mengenai ekspedisi yang kami namakan Zero to Zero Expedition.

Sabtu, 18  September 2004 (Hari – 1)
Seminggu sudah keberadaan kami di Masohi (Ibukota Maluku Tengah) untuk mengurus segala keperluan menyangkut birokrasi untuk pendakian ke G. Binaiya. Setelah segala urusan menyangkut perijinan beres, kami tinggal menunggu teman-teman yang akan menyusul dari Ambon.
Tim kami terdiri dari awalnya terdiri dari 6 orang dengan komposisi 3 anggota Matepala Unpatti (Juni, Yaken dan saya) sementara Mapala FE Unram Mataram terdiri atas 3 orang juga (Daeng, Lukman dan Oppiek), dari tim awal ini kami merasa perlu untuk menambah personil terutama dari tim pendukung mengingat beratnya medan yang akan dilalui dan lamanya waktu perjalanan. Sehingga diputuskan untuk menambah 2 orang lagi yaitu Khoko (PPWSPA Kanal Ambon) dan Amor (KPA. Antegpala Team Ambon).
Kelompok kecil ini terbagi atas 2 yaitu Juni, Daeng, Khoko dan Amor mengurus Logistik dan birokrasi di Ambon sedangkan Saya, Yaken, Lukman dan Oppiek mengurus perijinan pendakian dan lain-lainnya di Masohi.
Tepat jam 17.30 kelompoknya juni tiba dari ambon dan langsung bergabung di base camp kami di kost-kosan salah satu rekan kami yang kebetulan sudah menetap dan bekerja di Dinas Kehutanan masohi (Acha). Setelah segalanya beres malamnya langsung briefing dan pembagian logistik. Senior-senior kami dari Matepala (Irpan Syah dan Rustam Latupono) juga sempat hadir untuk memberikan masukan/informasi dan wejangan-wejangan kepada kami karena memang mereka sempat beberapa kali mendaki ke Binaiya baik dari jalur utara ataupun dari jalur selatan. Pembagian logistik dibagi 11 hari waktu perjalanan + 4 hari Emergency) perhari per orang dengan pembagian 1 orang dapat dua hari, kecuali Amor yang dapat  kantongan + Obat-obatan dan perlengkapan lain yang kecil-kecil. setelah packing akhirnya semua bisa beristirahat pukul 00.00.


Minggu, 19 September 2004 (Hari – 2)
Kecerahan Pagi menyambut kami yang sudah siap-siap untuk memulai suatu perjalanan yang panjang. Setelah semuanya beres kami menuju ke teminal Binaiya yang terletak di pusat kota Masohi Kab. Maluku Tengah. Karena jumlah kami 8 orang dengan jumlah barang bawaan yang banyak maka kami memutuskan untuk menaiki mobil carteran ketimbang mobil penumpang biasa karena setelah dihitung-hitung ongkosnya sama saja.
Perjalanan yang ditempuh ± 4 jam dari kota Masohi ke daerah selatan Pulau Seram tepatnya di kecamatan Tehoru. Setelah istirahat makan siang. Berdasarkan petunjuk dari salah satu Pejabat TN Manusela (Bpk Margono), perjalanan pun kami lanjutkan ke Dusun Hatumete. Dengan menggunakan long boat, dalam perjalanan ini tim kami harus terbagi karena kecilnya long boat (1 buah hanya bisa memuat 3 – 4 orang + bawaan/ransel) jadi long boat yang digunakan sebanyak 3 buah. Penyebrangan ini memakan waktu 30 – 35 menit. Tiba di Dusun Hatumete pukul 14.30. setelah melapor ke Kepala Dusun kamipun diperkenankan beristirahat di rumah pengungsi yang baru dibangun namun belum dihuni oleh pemiliknya.
Seusai saran dari Bpk. Margono sebelumnya, kami pun mencoba mencari porter/penunjuk jalan dari masyarakat dusun Hatumete melalui kepala dusun. Sebenarnya pencarian penunjuk jalan/porter di dusun Hatumete ini adalah pengalaman baru buat kami karna selama ini penunjuk jalan/porter yang digunakan oleh senior-senior kami selalu berasal dari dusun Mosso.
Di dusun Mosso  inilah terdapat 2 orang porter yang sudah dikenal baik oleh senior-senior kami, pendaki lokalan, peneliti ataupun pendaki asing yaitu Ruslan Tehuayo dan Dullah Tehuayo anak dari Mantan Raja Mosso.

Senin, 20 September 2004 (Hari – 3)
Pagi hari kami menerima kabar yang kurang mengenakkan yaitu porter yang dijanjikan oleh Kepala Dusun tidak jadi berangkat karena porter tersebut dan masyarakat dusun Hatumete umumnya masih takut untuk melakukan perjalanan jauh apalagi harus masuk keluar daerah yang pernah terkena kerusuhan. Selain itu juga hari ini adalah hari Pemilihan Umum (Pemilu), untuk menghormati Pesta Demokrasi tersebut kamipun mengurungkan niat kami untuk berangkat pada hari itu juga, suatu alasan yang sangat mengecewakan kami.
Sambil menunggu perkembangan informasi. Setelah makan siang kamipun memutuskan untuk mencari porter langganan lama kami di Desa sebelah (Desa Mosso) untuk diketahui jarak antara Dusun Hatumete dan Desa Mosso ± 800 m. setelah ketemu dengan keluarga Tehuayo akhirnya pada sore hari setelah berpamitan pada warga Dusun Hatumete kamipun ke Desa Mosso dan langsung di rumah orang tua Porter langganan kami tersebut (rmh. Bpk. Abd Rahman Tehuayo/Mantan Raja Desa Mosso).
Malamnya setelah Makan malam, persiapan-persiapan pun dilakukan. Semua barang dikeluarkan dan di cek ulang oleh Bang Ruslan dan Bang Dullah. Kamipun cukup kagum dengan kedua orang porter tersebut sebab mereka benar-benar sangat memperhitungkan semua faktor-faktor yang telah mereka prediksi sebelumnya mulai dari jumlah logistik dan pembagiannya, kapasitas dan safety tenda yang kami bawa, perlengkapan team dan pribadi. Semua itu dilaksanakan berdasarkan prosedur yang biasa dilakukan dengan pendaki asing ataupun peneliti asing yang biasanya mereka guide.
Memang dilihat dari umur dan pengalamannya kedua porter ini cukup berpengalaman, bang Ruslan (umurnya ±36 tahunan) misalnya sudah tidak terhitung lagi keluar masuk kawasan TN Manusela sekedar untuk menemani pendaki menelusuri TN Nasional atau ke puncak gunung Binaiya (mutiara Nusa Ina), mencari hasil hutan, berburu ataupun membawa barang dagangan di dusun-dusun dekitar gunung Binaiya. Begitupun Bang dullah (umurnya ±33 tahunan) yang dapat sedikit berbahasa Inggris, sudah sering kali menjadi guide buat para turis/backpacker, peneliti atau sekedar treeking di kawasan Taman Nasional Manusela atau ke gunung Binaiya. Sehingga sudah lebih dari 4 kali beliau sampai si puncak tertinggi di Maluku tersebut. Sampai pada saat kerusuhan pun terjadi Bang Dullah sempat-sempatnya menjelajah di sekitar TN. Manusela hanya untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh salah satu Biro Pejalanan dari Eropa untuk mengecek jalur pendakian, benar-benar hebat bang Dullah ini.
Malamnya akupun dapat beristirahat dengan tenang menunggu saat-saat pendakian pertamaku setelah ± 1 tahun lebih terakhir tidak pernah mendaki gunung.  

Selasa, 21 September 2004 (Hari – 4)
Dengan semangat aku dan teman-teman udah bangun pagi-pagi buta (jam 5 pagi) Dan mulai membuat sarapan, tidak ketinggalan Ibunya bang Ruslan dan dan istrinya bang Dullah membantu kami untuk menyiapkan sarapan sehingga pukul 06.30 kamipun sudah sarapan dan packing untuk selanjutnya memulai perjalanan panjang. Dalam perjalanan ini kami akan diantar oleh bang Dullah sebab bang Ruslan ada urusan lain sehingga tidak bisa mengantar kami tapi itu bagi kami bukan suatu masalah sebab bagi kami bang Dullah atau bang Ruslan sama saja.
Setelah semuanya beres pukul 09.00 kamipun mulai melaksanakan perjalanan dengan porter kami bang Dullah Tehuayo perjalanan dimulai benar-benar dari titik 0 Mdpl (berdasarkan altimeter yang kami bawa) sebab rumah tempat kami menginap memang di tepi pantai.

Sudah ± 2 jam kami berjalan menelusuri jalan yang cenderung menanjak tanpa ada satu turunan pun hingga semuanya terlihat terseok-seok sampai malah terlihat sampai muntah-muntah mungkin kurang tidur atau kurang sarapannya. Daerah yang kami lalui masih daerah yang didominasi dengan pohon cengkeh dan pala dan sesekali melewati lokasi kebun/ladang masyarakat. Kulihat altimeter ternyata kami masih diketinggian 400 Mdpl. Puncak gunung Binaiya masih jauh dari pandangan kami bahkan belum terlihat titiknya sama sekali.

Walaupun dengan semangat tinggi namun perjalanan yang kami lalui sangatlah membosankan tanpa ada satu jalur landai yang panjang atau turunan (Bonus), di hari pertama ini kami mencoba mencari irama langkah yang pas buat kami maklumlah sebelumnya kami belum pernah melakukan pendakian bersama dengan teman-teman dari Mapala FE Mataram, KANAL ataupun Antegpala sehingga jarak antara yang satu dengan yang lain lumayan berjauhan. Setelah beberapa kali beristirahat kecil akhirnya pukul 13.00 LT semua anggota team tiba di Dusun Sinahari.

Dusun Sinahari ternyata hanya tinggal puing-puing, informasi yang kami peroleh dari Bang Dullah bahwa pada saat terjadinya konflik/kerusuhan di maluku tahun 1999 - 2000 dengan alasan keamanan masyarakat dusun ini mengungsi ke desa Hatumete, desa Limampoli dan sebagian ke desa Lahasarani dan desa-desa lainnya, sehingga setibanya kami di dusun ini tidak terlihat seorang pun kecuali ada beberapa orang yang kebetulan lewat untuk mencari hasil hutan dan berburu. Kami terus berjalan hingga tiba di satu-satunya rumah gubuk bambu di ujung dusun yang dekat dengan sumber air. Disitulah kami beristirahat dan kemudian menyiapkan makan siang.

Setelah makan siang kamipun melanjutkan perjalanan kulihat jam tanganku menunjukkan puku 15.02 LT dan hanya berselang  ± 20 menit kamipun tiba di tempat yang agak landai untuk beritirahat yaitu Liang 1 yang sama masyarakat disebut liang amarwele. Disebut liang karena daerah ini terdapat batu besar yang bagian bawahnya menjorok kedalam sehingga bisa dijadikan tempat berlindung diwaktu hujan ataupun tempat menginap bagi masyarakat pencari rotan dan pemburu binatang. 
Setelah beristirahat sejenak kamipun melanjutkan perjalanan melewati liang 1,5 cuaca sudah mulai hujan 30 menit kemudian kamipun melewati kuburan sejengkal (istilah masyarakat kampung). Cerita masyarakat mengenai kuburan ini simpang siur ada yang mengatakan kuburan orang pintar adapun yang menganggapnya kuburan anak kecil karena gundukannya hanya sekira 40 cm dengan nisan kecil diujungnya dan diatas gundukan terdapat uang-uang logam/koin yang sengaja ditaruh orang yang melewatinya yang menyakini bisa mendapatkan berkah.
Perjalanan kami lanjutkan dan sekitar pukul 17.00 LT kamipun tiba di sungai Waiwalala (505 Mdpl) perjalanan yang kami lakukan sangatlah hati-hati sebab menelusuri samping sungai yang merupakan punggungan gunung hari sudah mulai gelap, bertambah gelap ditutupi mendung yang mulai tebal. Area ini sangat berbahaya sebab sering terjadi longsor yang disebabkan oleh erosi air hujan. 
Lukman (Mapala FE Mataram) sempat tergelincir dan jatuh beberapa meter ke jurang untunglah terselamatkan oleh Carriernya yang tersangkut di pohon yang menyebabkan cedera lutut. Medan yang lumayan panjang dan berbahaya ini kami lalui hampir 1,5 jam ini akhirnya membawa kami tiba di kami liang 2 (liang Silahata) disinilah kami mendirikan tenda untuk bermalam. Liang ini mirip liang 1 hanya lebih luas sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat menginap. Setelah mendirikan tenda, menyiapkan makan malam kemudian kamipun beristirahat dengan cuaca hujan sepanjang malam yang sesekali terdengar suara pohon-pohon roboh karena longsor.

Rabu, 22 September 2004 (Hari – 5)
Mungkin karena kecapean kamipun bangun agak telat (jam 06.30) sebelumnya terlihat juni dengan abang dullah sudah bangun duluan sedang menyiapkan sarapan. Kamipun langsung sarapan dan siap-siap melakukan packing, disaat inilah tepat diatas lokasi camp tiba-tiba terjadi badai dan longsoran yang menyebabkan robohnya beberapa pohon dan hujan tanah/batu dan ranting-ranting pohon tua yang menimpa tenda-tenda kami yang masih berdiri, beberapa piring plastik pecah karena terkena batu-batu yang jatuh untunglah tenda-tenda tidak robek ataupun patah. Kamipun berinisiatif untuk menjauhi dari liang 2 menghindari batu-batu/pohon-pohon roboh kejadian ini berlangsung agak lama untunglah semua anggota tim dalam keadaan baik dan selamat.
Setelah keadaan benar-benar aman kamipun segera packing. Pada pukul 10.20 angin dan hujan belum berhenti mengingat waktu kami yang terbuang cukup banyak, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan kurang lebih 45 menit kamipun tiba di air terjun dan  beristirahat sejenak perjalanan kami lanjutkan dibawah siraman air hujan dan kencangnya angin hingga tiba di liang 3 (Liang Malasilahata/1080 Mdpl) pukul 13.20 LT langsung menyiapkan sarapan, karena kondisi yang tidak memungkinkan kamipun hanya makan Nasi Tim (Nasi kalengan yang biasanya di bawa oleh TNI) cuaca benar-benar sangat tidak bersahabat semua kebasahan kecuali juni yang kebetulan membawa payung hehehehe. kondisi lukman sudah menurun disebabkan pengaruh luka pada lututnya pada waktu tergelincir dalam perjalanan menuju liang 2.
Setelah hampir 1 jam setelah makan siang dan beristirahat sambil menuggu cuaca yang mulai membaik, perjalanan kami dilanjutkan dengan target Puncak Nasalala dan sekitar 45 menit perjalanan sampailah kita di sungai Waitapa Kastamu (1194 Mdpl). Sungai ini merupakan sungai terakhir hari ini kami mengambil air sebanyak-banyaknya untuk persiapan.
Perjalanan dilanjutkan dibawah siraman hujan dan angin yang lumayan menusuk tulang dan sekitar 1 jam tibalah kami di lokasi yang oleh masyarakat yang sering melewati jalur tersebut diberi nama Lapangan Inggris (1400 Mdpl) konon dinamakan lapangan inggris dikarenakan di dataran ini pernah dibuatkan landasan helipad darurat untuk evakuasi korban Operation Raleigh tahun 1987. 
Sekitar 30 menit meninggalkan lokasi ini tim tiba di lokasi yang oleh masyarakat setempat diberi nama Koritatapotoa (entah apa artinya) sekitar pukul 16:25 LT, lokasi ini berada di bawah puncak Nasalala, dikarenakan menginap di puncak Nasalala terlalu beresiko maka masyarakat yang melintas di lebih memilih tempat ini sebagai tempat menginap, seluruh anggota sepakat untuk beristirahat dan mendirikan tenda karena sudah pada sudah kecapean dan kedinginan diterpa angin dan hujan.

Malam harinya setelah Makan malam seluruhnya langsung beristirahat memulihkan tenaga untuk perjalanan selanjutnya.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar